Al-Imam As-Syaf’i bernama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Syafi’I. Sejatinya keluarga beliau tinggal di Mekkah Al-Mukarromah, akan tetapi orangtuanya hijrah ke Palestina, lahirlah Imam Syafi’I di Ghozzah salah satu kota di negara Palestina. Tidak lama setelah kelahiran Imam Syafi’I ayahnya meninggal. Ketika beliau berumur 2 tahun Ibu beliau membawanya kembali ke Mekkah untuk hidup bersama keluarga dan kerabatnya.

Pada saat usia beliau masuk remaja beliau melakukan perjalanan ke Madinatul Munawwaroh untuk berguru kepada Imam Malik. Darinya beliau belajar tentang kitab Al-Muwattho. Kemudian, imam Syafi’i pindah ke Baghdad. Di tempat baru tersebut, beliau belajar tentang madzhab Hanafi dari Muhammd bin Hasan, salah satu murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i berhasil memahami kedua mazhab Islam itu dengan baik sehingga pantas disebut sebagai ulama besar. Atas dasar penguasaan terhadap kedua mazhab itu, maka lahirlah mazhab baru bernama madzhab Imam As-Syafi’I. Beliau lalu ppindah ke Mesir dan di sana-lah beliau menyebarkan madzhab barunya, sampai beliau meninggal pada tahun 204 H dalam usia 54 tahun.

Imam Syafi’i terkenal dengan kecerdasannya , kefasihannya dalam berbicara, kemampuannya dalam berkhutbah, dan bersya’ir. Orang-orang mengenal beliau sebagai Imamnya para Ulama dan beliau juga mengajak masyarakat untuk menuntut ilmu dan pengetahuan.

Salah satu contoh perkataannya yang muli dan penuh hikmah adalah “barangsiapa menginginkan kehidupan dunia maka ia harus meraihnya dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka dia juga harus meraihnya dengan ilmu”.

Selain itu beliau juga dikenal dengan akhlaknya yang mulia. Suatu hari datang kepadanya seorang tetangga yang berprofesi sebagai penjahit. Kemudian Imam Syafi’i meminta tolong kepada tetangga tersebut untuk memperbaiki celananya. Setelah itu, Imam Syafi’i memberinya uang satu dinar. Akan tetapi, tetangga tersebut menatap Imam Syafi’i sambil tertawa. Maka Imam Syafi’i pun berkata kepadanya, “Ambillah !. Seandainya ada uang yang lebih banyak dari ini, maka aku akan memberikannya kepadamu dengan ikhlas”. Berkatalah tetangga itu, “Sesungguhnya aku datang untuk berkunjung dan memberi salam kepadamu”. Imam Syafi’i kembali berkata, “Engkau adalah seorang tetangga sekaligus tamu. Dan bukankah kehormatan itu adalah saling tolong menolong antara tetangga atau tamu”. Kisah ini menggambarkan kemuliaan akhlak Imam Syafi’i yaitu beliau selalu menghargai sekecil apapun jasa yang diterimanya bahkan memberikan kembali imbalan yang lebih. Meskipun tetangga tersebut juga bermaksud hanya sekedar menolong imam Syafi’i.

Sumer: Al-Qiro’ah