Yahudi dan Keruntuhan Kesultanan Islam Terakhir

Pembahasan ini mungkin terkesan suatu pembahasan yang bernuansa politik tanpa ada hubungan dengan kegiatan bisnis kaum Yahudi. Memang sepertinya demikian, tetapi pembahasan ini sangat penting untuk diketahui. Karena pada saat inilah bangkitnya kembali pertentangan Yahudi yang selama berabad-abad terpendam dalam hati mereka. Mereka berpikir jika ingin menguasai politik dan bisnis dunia, maka hal yang harus mereka lakukan pertama kali adalah meruntuhkan kesultanan Islam terakhir yang merupakan batu penghalang yang sangat besar untuk kebangkitan mereka. Pasalnya, kesultanan Islam yang dipimpin oleh Sultan Hamid II ini masih menerapkan sistem bisnis Islam yang melarang adanya riba dalam setiap sendi perniagaan dan kehidupan. Padahal riba adalah satu sendi kekuatan yang paling hebat yang dimiliki Yahudi untuk menguasai dan mengendalikan perekonomian dunia, seperti apa yang mereka lakukan dahulu kepada bangsa Arab pada masa Rasulullah SAW. Untuk itu, siapa saja yang menghalangi sistem riba dan pertumbuhannya, maka ia harus disingkirkan. Namun saya mencoba untuk meminimalkan tentang pembahasan politik yang ada supaya buku ini tidak menjadi buku yang sangat berbau politik.

Kesultanan Islam terakhir dipimpin oleh Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan yang dikenal dengan sebutan Sultan Abdul Hamid II. Beliau lahir pada tanggal 21 September 1842. Beliau merupakan anak dari Istri kedua Sultan Abdul Majid. Sultan Abdul Hamid II disahkan menjadi sultan ketika berusia 34 tahun, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1876 M. Setelah dilantik, Sultan Abdul Hamid II tinggal di Istana Yildiz. Dalam masa pemerintahannya, negara-negara Islam yang dibawah naungan kepemimpinannya mengalami banyak kemajuan yang juga tidak kalah dengan negara-negara Eropa. Salah satunya adalah pembuatan jalur kereta api yang digunakan untuk mengangkut jamaah haji. Sultan Abdul Hamid II juga pernah berjasa menolong jamaah haji yang berasal dari Indonesia. Tidak hanya jamaah haji, para pelarian dari Indonesia yang dianggap pemberontak oleh penjajah Belanda juga mendapat perlindungan. Bahkan mereka dianggap sebagai pahlawan muslim dan kehidupan mereka mendapat tunjangan dari Sultan Abdul Hamid II[1]. Pembangunan institusi dan fasilitas umum mendapat perhatian yang baik sehingga pasar, masjid, pemandian umum, rumah sakit, dan sekolah dapat berdiri megah di setiap negara-negara Islam. Industri, laboratorium penelitian hingga tempat rekreasi juga disediakan oleh Sultan Abdul Hamid II. Industri dan pabrik yang dibangun diantaranya yaitu industri sutra, tenun dan tekstil, gula, porselen dan keramik, batu bata, kaca, gas, mesiu, dan senjata. Di wilayah istana Yildiz sendiri juga terdapat rumah sakit, perpustakaan, bengkel, laboratorium farmasi, laboratorium fotografi, pabrik percetakan, dan kebun binatang [2].

Pada masa pemerintahannya, beliau banyak menghadapi tekanan dan rongrongan baik dari dalam maupun dari luar istana. Tekanan dari luar berasal dari negara-negara Eropa seperti Perancis, Inggris, dan Rusia. Sedangkan dari dalam berasal dari orang-orang yang tidak sepakat dengan sistem kekhalifahan yang masih diterapkan oleh Sultan Abdul Hamid II. Midhat Pasha adalah orang Turki pertama yang berani mencoba menghancurkan kesultanan Islam Turki dari dalam. Banyak sumber yang mengatakan bahwa Midhat Pasha merupakan keturunan Yahudi Dunnama (Yahudi beridentitas Islam) dan juga merupakan anggota Freemasonry (perkumpulan rahasia Yahudi)[3]. Ia merupakan salah satu Gubernur yang cukup terkenal pada masanya. Setelah lengser dari jabatan Gubernur, Midhat Pasha kemudian diangkat menjadi ketua Majelis Menteri kesultanan. Midhat Pasha bekerjasama dengan Inggris dalam konspirasi untuk merubah sistem pemerintahan Islam kesultanan. Untuk melancarkan usahanya tersebut, Midhat Pasha menyusun rancangan reformasi lembaga negara. Ia bersikeras mengusulkan agar Sultan Abdul Hamid II menerapkan sistem kelembagaan negara seperti yang ada di Belgia dan mengesahkan rancangannya dalam UUD. Namun usaha Midhat ini mengalami penolakan dari Sultan Abdul Hamid II sehingga rencananya tersebut bisa dikatakan gagal total. Sultan menolak rancangan kelembagaan negara yang diperjuangkan Midhat karena rancangan tersebut merupakan sistem demokrasi yang diterapkan oleh negara sekuler. Usaha Midhat Pasha sebagai antek Inggris tidak berhenti sampai di situ saja. Ia kemudian memprovokasi Majelis Syuro untuk mengadakan perang dengan Rusia. Sebenarnya ia tahu bahwa keadaan kesultanan Islam Turki ketika itu masih lemah dan belum siap berperang melawan negara Rusia. Tetapi ia memang sengaja menginginkan peperangan itu terjadi supaya kesultanan Islam Turki dapat dihancurkan. Namun usahanya ini kembali mengalami kegagalan. Identitas Midhat Pasha sebagai seorang pengkhianat semakin hari semakin jelas terlihat. Kemudian pada tahun 1881 Midhat Pasha diajukan ke persidangan yang digelar di Istana Yildiz. Dalam persidangan tersebut, Midhat Pasha terbukti melakukan pengaturan pembunuhan terhadap Sultan Abdul Aziz yang memerintah kesultanan Turki sebelumnya. Akibat kesalahan ini, Midhat Pasha diturunkan dari jabatan sebagai ketua Majelis Menteri dan dibuang ke Eropa. Sebenarnya, tidak hanya pejabat negara seperti Midhat Pasha saja yang menginginkan dirubahnya sistem kenegaraan kesultanan Islam Turki. Banyak para cendekia dan pemikir Islam yang telah teracuni pemikiran-pemikiran dari negara-negara Barat. Salah satu contohnya adalah Ziya Gokalp (1875-1924) seorang pemikir Turki yang cukup terkenal. Ia mengatakan bahwa jika kesultanan Turki ingin mengalami kemajuan yang hebat, maka harus meniru apa yang dilakukan oleh negara-negara Barat dan menghapuskan sistem kenegaraan Islam yang selama ini dipakai.

Setelah sang pengkhianat Midhat Pasha berhasil disingkirkan, ternyata kesultanan Islam Turki belum lepas dari rongrongan dalam negeri sendiri. Kini muncul seseorang yang bernama Awni Pasha. Ia merupakan salah satu orang paling berpengaruh di dalam Majelis Menteri dan juga merupakan pimpinan militer. Awni mencoba meruntuhkan negaranya sendiri dengan memprovokasi Majelis Menteri agar menyetujui rencananya untuk menarik kesultanan Islam Turki ke dalam peperangan di Bosnia. Ia melakukan rencananya tanpa sepengetahuan Sultan Abdul Hamid II. Kali ini Sultan Abdul Hamid II tidak dapat mengelak dari keputusan Majelis Menteri yang mendesak untuk masuk ke dalam peperangan di Bosnia. Terlebih lagi Awni Pasha berbohong tentang kekuatan pasukan kesultanan Islam Turki yang ada di Bosnia. Ia menyatakan bahwa kekuatan pasukan di sana cukup untuk menghadang pasukan musuh. Tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu, kekuatan pasukan yang ada jauh lebih lemah dari yang diperkirakan. Akibatnya pasukan Islam dapat dikalahkan dan Bosnia jatuh ke tangan negara-negara musuh. Ternyata Awni Pasha tidak hanya berbohong mengenai keadaan pasukan Islam di Bosnia, tetapi juga membantu pasukan musuh untuk merebut Bosnia dari tangan umat Islam. Akhirnya konspirasi Awni Pasha yang bekerjasama dengan kekuatan musuh terungkap dan sebagai sanksinya ia diusir ke luar Turki. Tidak hanya itu, Awni Pasha juga terdakwa kasus penyingkiran Sultan Abdul Aziz dari pemerintahannya.

Dengan disingkirkannya para pengkhianat seperti Midhat Pasha dan Awni Pasha tidak serta merta membuat kesultanan Islam Turki menjadi tentram dan damai. Semakin hari berlalu dirasakan tekanan yang dihadapi semakin besar dan mengkhawatirkan. Selain tekanan dari luar Turki, tekanan dari dalam juga dirasakan semakin kuat yang dimotori oleh orang-orang Yahudi. Jika negara-negara Eropa ingin mengalahkan kesultanan Islam terakhir supaya tidak ada lagi kekuatan tandingan yang selama ini sangat mengganggu. Maka Yahudi berusaha meruntuhkan Sultan Abdul Hamid II supaya dapat mengumpulkan semua orang Yahudi yang terpencar-pencar ke dalam suatu wilayah yang bernama Palestina, sebagai “Tanah Yang Dijanjikan”. Mereka juga bermaksud untuk menndirikan negara Israel Raya di wilayah Palestina tersebut. Sebenarnya usaha mereka membujuk para pemimpin kesultanan Islam sudah dilakukan jauh sebelum Sultan Abdul Hamid II memerintah. Pada tahun 1517 M, para tokoh Yahudi mengajukan permohonan tersebut kepada Sultan Salim Al-Awwal. Dan pada tahun 1566 M, permohonan tersebut kembali diajukan kepada Sultan Sulaiman. Namun kedua Sultan tersebut menyatakan sikap yang sama yaitu menolak dengan tegas permohonan Yahudi untuk pindah ke Palestina. Sementara itu, pada tanggal 29 – 31 Agustus 1879 M, bertempat di Switzerland diadakan konferensi pertama para tokoh dan delegasi Yahudi yang membahas tentang pembentukan negara untuk orang-orang Yahudi yang dikenal dengan negara Israel Raya. Konferensi tersebut menghasilkan keputusan yang menyatakan negara Israel Raya akan didirikan di wilayah Palestina. Kemudian pada tanggal 28 April 1882, Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan surat keputusan yang kurang lebih menyatakan; “Dengan ini Khilafah Utsmaniyah mengumumkan kepada semua Yahudi yang berniat pindah ke Turki bahwa mereka tidak dibenarkan tinggal di Palestina”[4]. Hal ini dilakukan untuk mencegah rencana gila orang-orang Yahudi tersebut yang semakin menjadi-jadi. Pada tahun 1895 salah seorang tokoh Yahudi, Theodore Hertzl, menulis sebuah buku yang berjudul Der Judenstaat yang isinya memprovokasi orang-orang Eropa agar mendukung berdirinya negara Yahudi di Palestina. Kemudian pada tahun 1897 kembali diadakan kongres Yahudi di Swiss yang dihadiri kurang lebih oleh 197 delegasi yang terdiri dari kaum ortodoks, nasionalis, liberalis, atheis, kulturalis, sosialis, dan kapitalis. Lalu Yahudi mendirikan  bank dan perusahaan untuk membiayai semua rencana dan kegiatannya. Jewish Colonial Trust merupakan bank yang didirikan ketika itu yang menampung semua dana yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi maupun orang non-Yahudi. Sedangkan perusahaan yang didirikan adalah Anglo Palestine Company pada tahun 1902 M[5]. Perusahaan ini medapat dukungan modal dan finansial dari bank Jewish Colonial Trust. Sedangkan Jewish National Fund yang juga didirikan sebagai langkah untuk mencapai tujuan Yahudi bertujuan untuk mengumpulkan dana dari orang-orang Yahudi dan non-Yahudi yang mendukung kaum Yahudi. Dana yang didapat oleh lembaga ini kemudian didistribusikan ke hal-hal yang dianggap perlu dan penting seperti untuk mendukung keberlangsungan bank Jewish Colonial Trust dan perusahaan Anglo Palestine Company. Para pengusaha sukses Yahudi juga membantu semua rencana dan kegiatan pemindahan orang-orang Yahudi ke Palestina. Salah satu pengusaha tersebut yaitu keluarga Rothschild yang merupakan keluarga pengusaha Yahudi paling sukses pada masa itu.

Desakan yang dihadapi oleh Sultan Abdul Hamid II untuk mengizinkan Yahudi datang ke Palestina semakin besar berasal dari luar maupun dari dalam negara sendiri. Karena desakan yang begitu hebat ini, pada tahun 1900 Sultan Abdul Hamid II memberikan keputusan yang mengizinkan orang-orang Yahudi datang ke Palestina hanya boleh selama kurun waktu 3 bulan. Jika lebih dari 3 bulan maka Sultan akan mengusir dengan paksa orang-orang Yahudi tersebut. Walaupun demikian, kaum Yahudi tidak merasa puas dengan apa yang diberikan oleh Sultan Abdul Hamid II dan terus mencoba membujuk Sultan untuk memberikan Palestina ke tangan Yahudi. Pada tahun 1898 M, tiga tokoh Yahudi yaitu Theodore Hertzel, Mousye Levi, dan Emanuel Kreuzo datang menghadap Sultan Abdul Hamid II dengan membawa hadiah 150 juta lira emas. Sebagai ganti dari hadiah tersebut, Sultan Abdul Hamid II harus mengizinkan Yahudi untuk pindah ke Palestina. Namun Sultan menolak hadiah tersebut dan mengatakan : “Palestina bukan milik saya, juga bukan milik orang Turki, tetapi ia milik umat islam. Kalaupun kalian menyerahkan semua emas yang ada di bumi, saya tidak akan pernah memenuhi permintaan kalian hingga tetes darah penghabisan”[6]. Ternyata usaha Yahudi tidak berhenti dan menyerah di situ saja. Pada tahun 1901, tokoh-tokoh Yahudi datang kepada Sultan dengan membawa penawaran baru yang dianggap lebih besar daripada tawaran sebelumnya. Hal-hal yang mereka tawarkan yaitu ;

  1. Yahudi akan membayar semua hutang Daulah Islam Utsmaniyah yang berjumlah 23 juta pound emas Inggris.
  2. Yahudi akan membantu pembangunan angkatan laut Daulah Islam Utsmaniyah untuk melindungi Khilafah yang menelan biaya 230 juta mark emas.
  3. Yahudi akan memberikan 35 juta lira emas tanpa kompensasi apa pun untuk membantu kemakmuran Daulah Islam Utsmaniyah.
  4. Yahudi akan mendirikan sebuah universitas Utsmaniyah di tanah suci.

Dan sebagai imbalannya, Yahudi hanya meminta dua hal yaitu;

  1. Sultan harus membolehkan Yahudi berkunjung ke Palestina semau mereka dan diperbolehkan untuk menetap selama mereka mau dalam rangka untuk ‘berkunjung ke tempat-tempat suci’.
  2. Sultan harus membolehkan Yahudi untuk membangun tempat tinggal mereka di mana mereka tinggal dan mereka mau ditempatkan bersebelahan dengan al-Quds (Jerusalem).

Namun sekali lagi Sultan Abdul Hamid II menolak semua tawaran tersebut melalui wakilnya, Tahsin Pasha dan menyampaikan;

“Katakan kepada Yahudi biadab itu, hutang Negara Utsmaniyah bukan sesuatu yang memalukan. Perancis mempunyai hutang dan itu tidak merendahkannya. Al-Quds (Jerusalem) menjadi bagian dari tanah Islam pada waktu ‘Umar bin al-Khaththab menaklukkan tanah itu. Aku tidak akan menorehkan dalam sejarah yang memalukan dengan menjual tanah suci kepada Yahudi dan mengkhianati tanggung jawab dan kepercayaan rakyat. Yahudi silahkan mengambil uang mereka kembali. Pemerintah Utsmaniyah tidak akan berlindung di dalam istana yang dibuat dari uang musuh-musuh Islam”[7].

Ternyata rencana kaum Yahudi benar-benar kuat dan nekat. Setelah beberapa kali mengalami penolakan dari Sultan Abdul Hamid II untuk memberikan Palestina, para tokoh Yahudi tetap kembali mencoba membujuk Sultan. Untuk kesekian kalinya, Theodore Hertzl datang ke istana Yildiz untuk menemui dan mengajukan penawaran kembali kepada Sultan Abdul Hamid II. Namun Sultan enggan untuk menemuinya sehingga Herztl hanya bertemu dan menyampaikan penawarannya melalui ketua Majelis Menteri, Tahsin Pasha. Melalui Tahsin Pasha, Sultan kembali menegaskan penolakannya terhadap penawaran yang diajukan oleh Herztl;

“Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silahkan menyimpan harta mereka. Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup”[8].

Dalam usaha untuk merebut Palestina, Yahudi menempuh berbagai cara dan tidak hanya melalui pendekatan persuasif kepada Sultan Abdul Hamid II yang selalu gagal. Diantaranya Yahudi memanfaatkan keberadaan organisasi Persatuan dan Keamanan yang sedang berkembang pesat di Turki. Yahudi dengan organisasi Persatuan dan Keamanan memiliki hubungan yang sangat erat. Dan memang sebagian anggotanya merupakan orang-orang Yahudi dari berbagai agama dan ideologi. Walaupun memiliki agama dan ideologi yang berbeda, tetapi mereka sepakat untuk membentuk negara Yahudi di Palestina. Ketika itu anggota organisasi Persatuan dan keamanan dikenal dengan sebutan Turki Muda (Young Turks). Organisasi ini merupakan organisasi yang dianggap paling kuat karena memiliki hubungan yang erat dengan militer dan banyak dari kalangan perwira militer yang masuk ke dalam organisasi ini. Salah satu tujuan dan usaha nyata organisasi adalah berjuang dengan segenap tenaga untuk merubah sistem kenegaraan Islam Turki menjadi seperti apa yang diusulkan oleh Midhat Pasha yaitu sistem negara sekuler yang menerapkan sistem parlemen. Melalui tokohnya yang bernama Mustafa Kamal Ataturk, organisasi terus mendesak agar Sultan Abdul Hamid II menerapkan konstitusi negara dengan sistem parlemen yang sempat pernah diterapkan pada masa Midhat Pasha, meskipun hanya sesaat. Pada tahun 1908 M, organisasi ini berhasil membuat Sultan Abdul Hamid II mandul dalam pemerintahannya dan hanya menjadi simbol kekuasaan belaka. Hal ini menyebabkan terjadinya pergolakan dan kerusuhan pada tanggal 13 April 1909 M. Kerusuhan ini terjadi antara kelompok yang mendukung konstitusi dan yang menolak konstitusi dan membela sistem Islam. Kelompok yang mendukung konstitusi dimotori oleh organisasi Persatuan dan Kemajuan, sedangkan kelompok yang menentang konstitusi adalah para ulama dan masyarakat muslim yang masih memegang murni ajaran Islam. Masih pada tahun yang sama Mustafa Kamal Ataturk dengan organisasi Persatuan dan Kemajuan yang diperjuangkannya berhasil melengserkan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukan sebagai Sultan yang memerintah Turki melalui kesepakatan parlemen yang telah terbentuk. Atas peristiwa ini Sultan Abdul Hamid II merasa bersalah dan meminta maaf kepada umat Islam melalui surat yang ditulis untuk gurunya Syeikh Mahmud Abu Syamad;

“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta poundsterling emas. Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan katakata;” Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian”. Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan rahasia yang dimiliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka. Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Uthmaniah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah anda dan segenap ikhwan menerima salam hormat saya. Guruku yang mulia. mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jama’ah yang anda bina bisa memaklumi semua itu[9].

Wassalamu’alaikum Wr.wb.

22 September 1909

Pelayan Kaum Muslimin

(Abdul Hamid bin Abdul Majid)

(Carr, 1991:21).

Kemudian tahun 1918 M merupakan tahun berduka cita sebelum tahun 1924 M yang ditetapkan sebagai tahun keruntuhan khilafah Islam. Pasalnya pada tahun 1918 ini seorang pejuang dan pemimpin Islam dunia, Sultan Abdul Hamid II harus berpulang ke rahmatullah (Allahu Yarham).

Dengan turunnya pemimpin tegas dan pemberani, Sultan Abdul Hamid II, maka Yahudi dan sekutunya semakin leluasa dan berbuat sesuka hatinya untuk mengacak-ngacak Islam di negara Turki. Keinginan yang selama ini mereka perjuangkan pun terlihat semakin mudah dilakukan yaitu mendirikan negara Yahudi (Israel Raya) di tanah Palestina. Apalagi Mustafa Kamal Ataturk, sahabat erat kaum Yahudi menjadi orang nomor satu di Turki ketika itu. Pada tanggal 19 Maret 1920 M, Mustafa Kamal Ataturk membentuk parlemen baru yang disebut dengan Majelis Raya Nasional. Sementara itu pada tahun 1922 Inggris mengadakan perjanjian dengan Turki yang dikenal dengan “Perjanjian Luzon”. Dari perjanjian ini disepakati tiga hal yaitu[10];

  1. Turki harus menghapus sistem khilafah.
  2. Negara sekuler Turki harus segera dibentuk dan diumumkan.
  3. Undang-undang Turki yang berasaskan Islam harus segera diganti dengan undang-undang sekuler.

Sebagai akibatnya, Mustafa Kamal Ataturk dengan Majelis Raya Nasional yang dibentuk segera menerapkan perjanjian tersebut. Pada tanggal bulan November 1922, Majelis Raya Nasional membuat peraturan baru yang menggantikan perundangan Islam. Kemudian pada bulan Maret 1924, wilayah-wilayah kekuasaan kesultanan Islam Turki Utsmaniyah semakin dipersempit hingga akhirnya tinggal negara Turki saja. Tidak hanya itu pada tahun 1925, negara sekuler Turki mengeluarkan undang-undang yang melarang umat Islam mengenakan pakaian muslim baik laki-laki maupun perempuan, mengganti sebutan salam “assalamu ‘alaikum” dengan hanya anggukan kepala. Kediktatoran negara sekuler Turki semakin menjadi-jadi dan kemudian pada tahun 1928, negara sekuler Turki kembali mengeluarkan peraturan yang mengubah bacaan Al-Qur’an dan azan dengan bahasa Turki, huruf arab diganti dengan huruf latin, kurikulum pelajaran agama dihapuskan dan hak waris antara laki-laki dan wanita disamakan. Setelah Mustafa Kamal Ataturk berhasil mengubah Turki menjadi negara sekuler seperti apa yang diinginkan oleh negara-negara Barat, baru kemudian negara Turki mendapat pengakuan kedaulatan dari negara-negara Barat seperti Inggris, Perancis, Rusia, Amerika dan negara lainnya. Tentara Inggris yang ada di Turki pun ditarik kembali ke negaranya. Tentara Inggris tersebut merupakan tentara yang menggempur kesultanan Islam Turki dan merebut wilayah Gaza di Palestina pada tahun 1917 M.

Konspirasi dan rekayasa musuh-musuh Islam telah berhasil meruntuhkan kekuatan sekaligus kebanggaan umat Islam dunia yaitu khilafah Islam Turki Usmani. Akhirnya musuh-musuh Islam merasa sangat senang dan semakin berkuasa untuk menindas umat Islam. Salah satu pihak yang paling senang dengan keberhasilan ini adalah Yahudi yang merampas Palestina untuk mendirikan negara Israel Raya. Semua musuh-musuh Islam bekerja sama dengan sangat baik dengan kaum Yahudi untuk menggulingkan kekuasaan Turki Usmaniyah. Sebagaimana yang dijanjikan oleh pemerintah Inggris dan Amerika Serikat kepada Yahudi pada tanggal 2 November 1917 M. Pada tanggal tersebut Menlu Inggris Arthur J. Balfour dan Presiden AS, Wilson, menjanjikan akan memberikan Palestina sebagai tempat berdirinya negara Israel Raya. Sejalan dengan hal di atas, pemimpin Komunis Rusia, Lenin, setelah berhasil meruntuhkan kekaisaran Rusia mengatakan; “Wahai Yahudi, sesungguhnya kemenangan itu sudah semakin dekat. Pada hari ini, kita telah memegang kekuasaan dunia dengan menguasai Rusia. Sebelum ini, Rusia adalah tuan kami dan sekarang mereka menjadi hamba kami” [11]. Demikianlah konspirasi negara-negara Barat dan pengkhianatan Yahudi dalam meruntuhkan Islam dan menghapus segala bentuk sistemnya.


[1] Republika, 15/3/2000; Snouck Hurgronye, 1959: 1446-1509.

[2] Constaninople, hlm. 314.

[3] Inthilaq, Mei 1994.

[4] Dr. Jamal A. Hadi, At-Tarîq il­â Bayt al-Maqdis, II/17-21.

[5] http://alhakimbestari.org/pdf/Konspirasi Terhadap Khilafah Islam.pdf.

[6]http://www.sinaimesir.com

[7] Ibid.

[8] http://www.abebooks.com/home/stillmanbooks/home.htm

[9] http://alhakimbestari.org/pdf/KONSPIRASI TERHADAP KHILAFAH ISLAM.pdf.

[10] Ibid.

[11] Dr. ‘Abdullah Azzam, Hamas, 14

1 Komentar (+add yours?)

  1. achmad mulyadi
    Feb 02, 2012 @ 17:27:52

    Hebat betul ya bangsa Yahudi,.. Tapi jangan takut Islam masih kuat di mana-mana. Dan perlahan Islam di Turki mulai tumbuh oleh sebab sistem sekuler yg diterapkan dlm pemerintahannya tdk menciptakan kedamaian. Mrk rindu dgn sistem Islam. Sabarlah,.. Pasti Allah akan menolong hambanya yg bertaqwa. Aamiin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: