Masih ingatkah anda dengan Perang Dunia I ? Sebuah perang besar yang terjadi dalam rentang waktu 1914-1918 M. Perang ini terjadi antara dua blok yaitu blok sentral dan blok sekutu. Blok sentral tergabung didalamnya yaitu Austria-Hongaria, Jerman, Kekhilafahan Turki Usmani,  dan Bulgaria. Sedangkan blok sekutu terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Italia, Inggris, Kanada, Jepang, Belgia, Rumania, Yunani, dan Serbia. Dalam sejarah yang kita baca atau dengar, perang ini disebabkan terbunuhnya Pangeran Austria. Sebab inilah yang diyakini sebagian besar dari kita terkhusus umat Islam sebagai sebab yang utama.  Tidak ada sebab lain kecuali pembalasan dendam atas terbunuhnya pangeran Austria yang dibunuh oleh kelompok bersenjata Serbia.

Bila kita coba untuk berpikir kritis kembali, ada sebuah skenario besar dan rahasia yang menjadi dalang peristiwa ini.  Sangat kurang logis perang besar itu disebabkan hanya karena perselisihan politik antara Austria dan Serbia. Mungkinkah banyak negara adidaya seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Italia rela membela Serbia yang merupakan negara kecil. Terlebih lagi itu sebuah kejahatan yang hanya dilakukan oleh sekelompok bersenjata Serbia.

Pembunuhan pangeran Austria hanyalah suatu pemicu dan momen yang tepat. Alasan utamanya adalah usaha untuk melakukan gerakan peralihan kekuasaan. Pihak sekutu berusaha secara paksa dengan kekuatan senjata dan konspirasi untuk merampas hegemoni pemegang kekuasaan dunia yang lama yaitu Block Sentral. Oleh karena itu, segala pemicu dan momen sangat dimanfaatkan oleh blok sekutu dengan sebaik-baiknya.

Hal lain yang membuat Amerika Serikat, pimpinan blok sekutu, berani untuk menggalang kekuatan dan persekutuan ada pada kondisi negara-negara blok sentral. Ketika itu, blok sentral sedang mengalami kelemahan dan penurunan di berbagai bidang terutama politik dan ekonomi. Misalnya saja kekhalifahan Turki Usmani yang pada waktu itu diberi julukan “Pria Sakit” oleh blok sekutu. Karena memang simbol kekuasaan umat Islam itu mengalami kemunduran yang cukup terlihat. Banyak wilayah yang mencoba memberontak dan ingin memisahkan diri menjadi sebuah negara berdaulat. Misalnya negara-negara di wilayah Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan lain sebagainya. Dari sisi lain, negara-negara tersebut merasa tidak diperlakukan dengan adil dan semestinya dari pemerintahan pusat khilafah di Turki.

Dengan melalui berbagai sebab dan pemicu baik secara langsung atau tidak, Perang Dunia I pun terjadi. Agresi militer terjadi di banyak wilayah perang. Eksodus besar-besaran warga sipil tidak ketinggalan turut mewarnai. Desing peluru, bau mesiu, dan ledakan mortar menjadi hal biasa. Kehancuran infrastruktur, pembunuhan masal, dan kelaparan menjadi pemandangan yang harus terlihat.

Setelah melalui peperangan panjang, akhirnya blok sekutu berhasil keluar sebagai pemenang. Pihak Sekutu pun merasa berhak menerima banyak ‘hadiah’ dari Blok Sentral yang kalah perang. Sebagian wilayah kekuasaan Blok Sentral dibagi-bagikan ke beberapa negara sekutu dibawah pengaturan pimpinan Blok Sekutu. Misalnya wilayah Palestina dan beberapa wilayah di Timur Tengah. Sebagian wilayah Blok Sentral yang tersisa mengumumkan kemerdekan dan berdiri sebagai negara-negara baru contohnya Arab Saudi.

Palestina adalah salah satu wilayah yang masuk ke dalam daftar pemindahan tangan dari Blok Sentral ke Blok Sekutu. Dan akhirnya negara Inggris yang mendapat hak atas Palestina tersebut. Namun perkembangan selanjutnya, Palestina diserahkan oleh Inggris ke orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara Israel. Ini terjadi setelah orang-orang Yahudi terus menuntut Inggris untuk menyerahkannya sebagai pamrih jasa. Memang orang-orang Yahudi memiliki andil besar membantu Inggris menjatuhkan khilafah Turki Usmani. Bahkan, orang-orang Yahudi bisa dikatakan menjadi dalang sekaligus peran utama dalam skenario penghancuran kekuasan khilafah Turki Usmani. Lihat saja, bagaimana tokoh Yahudi berkebangsaan Turki yang dikenal dengan Kemal Attaturk menggerogoti kekuasan khilafah dari dalam. Tidak hanya itu, dia-lah yang melakukan pemberontakan di pusat pemerintahan dan mengubah Turki Usmani dari Islam menjadi sekuler.

Sejak saat itu, Israel terus berusaha menguasai wilayah Palestina seutuhnya. Dimulai dengan imigrasi besar-besaran orang Yahudi dari berbagai penjuru pindah ke negara baru yang berdiri diatas tanah Palestina. Kemudian dilanjutkan perluasan wilayah paksa dengan cara pembangunan pemukiman-pemukiman baru ataupun agresi militer. Dari waktu ke waktu hingga sekarang, Israel semakin semena-mena terhadap penduduk Palestina. Sikap semena-mena itu sudah sering kali kita dengar dan lihat. Tapi tak ada yang berani menghukum Israel yang dibekingi oleh Amerika Serikat. Entah sampai kapan kondisi ini terus berlangsung. Mungkin sampai Israel berhasil menguasai seluruh wilayah Palestina. Atau justru sebaliknya, hingga Palestina berhasil mengembalikan kekuasaan seperti saat dibawah pemerintahan Turki Usmani dan bersih dari orang-orang Yahudi sama sekali.