Asia pernah mengalami krisis ekonomi hebat pada tahun 1997 – 1998. Negara-negara Asia ketika itu jatuh terpuruk, tak terkecuali Indonesia. Bahkan, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang paling dahsyat terkena dampak krisis moneter tersebut. Sendi-sendi perekonomian hancur berantakan. Kemudian merambat kepada krisis-krisis lainnya seperti krisis politik, pertahanan, dan moral. Bentuk nyatanya terlihat dengan banyak terjadi kerusuhan di berbagai daerah, terutama di Jakarta. Pada akhirnya, fenomena ini memaksa presiden Soeharto lengser dari jabatan sebagai presiden. Setelah itu, Indonesia harus membangun perekonomiannya kembali dari titik awal. Hal ini sangat sulit karena efek krisis ekonomi global masih berdampak pada tahun-tahun berikutnya, bahkan hingga saat ini meski tidak begitu terasa.

Kini, dunia kembali dikejutkan oleh krisis ekonomi yang melanda Eropa. Titik pusat krisis ekonomi ini berada pada Italia dan Yunani. Karenanya, sebagian negara Eropa yang tidak ingin mengalami krisis lebih dalam mendesak kedua negara itu untuk segera memperbaiki kondisi perekonomiannya. Tentu hal tersebut tidak mudah dilakukan walau untuk negara Eropa sekelas Italia dan Yunani. Apalagi sistem perekonomian yang dijalankan adalah Ekonomi Kapitalis. Sistem ekonomi inilah yang sebenarnya menjadi sumber utama dari krisis ekonomi dunia. Ternyata krisis ekonomi Eropa memiliki hubungan erat dengan krisis ekonomi di Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 2007 silam. Dengan kata lain, krisis ekonomi Amerika Serikat menjalar ke wilayah Eropa. Karena memang antara Amerika Serikat dan Eropa memiliki hubungan ekonomi yang erat dan bersifat timbal balik.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan krisis di Amerika Serikat dan kemudian menjalar ke benua Eropa ? Bukankah katanya Amerika Serikat terkenal memiliki sistem ekonomi dan keuangan yang kuat ?. Ternyata usut punya usut biang keladi dari krisis tersebut tidak lain adalah lembaga keuangan di Amerika Serikat, terutama perbankan. Bahwa negara Amerika menjalan sistem ekonomi riba tentu kita semua sudah tahu. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Ada tindakan negatif yang dilakukan bank-bank di Amerika untuk meraup keuntungan lebih. Tindakan ini berkaitan dengan pemberian kredit rumah. Permisalan gampangnya seperti ini. Para nasabah seharusnya membayar cicilan bunga kredit sebesar 200 ribu setiap bulan. Ternyata bank memberikan keringanan semu kepada nasabah dengan menarik cicilan bunga kredit sebesar 100 ribu setiap bulan. Tentu 100 ribu sisanya tidak direlakan begitu saja. Lebih kejamnya sisa cicilan bunga tersebut dimasukkan ke dalam hutang kredit pokok. Secara otomatis, pokok kredit yang bertambah akan menyebabkan nominal bunga pinjaman pun bertambah. Intinya bisa dikatakan, bunga pinjaman kemudian berbunga lagi. Tentu hal ini membuat para nasabah tidak mampu membayar cicilan karena nilainya terus membengkak. Akibatnya, banyak nasabah yang harus kehilangan rumah kredit tersebut. Lebih lanjut hal ini berdampak pada merosotnya bisnis property yang ada di Amerika. Bak bola salju, krisis ini terus menggelinding sambil menyeret gumpalan-gumpalan krisis yang lain hingga terus menjalar ke benua Eropa.

Sungguh benar firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al baqarah ayat 276;

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa”. (QS. Al Baqarah: 276)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka itulah orang- orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS. Ar Ruum : 39)

Cukup kiranya bagi umat manusia krisis ekonomi di Asia, Amerika, dan Eropa menjadi pelajaran yang berharga. Terutama sekali bagi kita sebagai umat Islam yang diberikan sistem ekonomi terbaik dari sisi Allah. Dan sudah saatnya bagi kita untuk hijrah dari ekonomi kapitalis atau riba kepada ekonomi Islam atau syariah. Ini semua untuk kemaslahatan kita di dunia terutama di akhirat kelak.

Referensi: Dari berbagai sumber