Tragedi Gaza pada waktu yang lalu sangat memilukan hati umat Islam. Tragedi Gaza yang disebabkan oleh agresi militer Israel itu benar-benar di luar batas perikemanusiaan. Penjajah itu tidak kenal waktu melakukan penyerangan siang dan malam. Tak pernah memberi kesempatan kepada warga Gaza untuk menarik nafas sejenak merasakan ketenangan. Senjata yang mereka gunakan pun tergolong canggih dan otomatis. Mereka mengerahkan tank-tank pembom ke perbatasan. Memborbardir Gaza dari daerah perbatasan. Si bangsa kera ini juga meerbangkan pesawat-pesawat tempur yang menghujani Gaza dengan ratusan bom dan rudal. Angkatan darat mereka memasuki kota Gaza, menyerang dan membantai dengan dalih mencari kelompok jihad Hammas. Serangan mereka semakin lengkap ketika mengirimkan armada laut yang menyerang Gaza dari laut. Kekejaman Israel pun semakin menjadi-jadi ketika mereka menggunakan bom pemusnah masal yang mengandung zat kimia bernama fosfor. Zat ini telah terbukti sangat berbahaya karena mampu meremukkan tulang dan menghanguskan kulit.

Adalah suatu ironi, negara-negara Arab lamban mengambil sikap bahkan terkesan tak peduli ketika rakyat Palestina yang sedang kelaparan mengalami kekejaman-kekejaman di atas. Padahal negara-negara Arab merupakan tetangga paling dekat dengan Palestina. Jangankan mengirimkan pasukan untuk menyerang Israel dan membebaskan kota Gaza. Membuka perbatasan untuk jalur masuk bantuan saja mereka sulit. Mereka lebih suka menonton penderitaan rakyat Palestina melalui televisi kabel berbayar mahal yang mereka nikmati setiap hari. Seharusnya mereka malu kepada Hugo Chavez yang berani mengusir kedutaan Israel dari negerinya sebagai rasa solidaritas terhadap rakyat Palestina. Padahal ia bukan orang Arab. Memang benar bila ada yang mengatakan bahwa Chavez lebih Arab daripada orang Arab. Begitulah keadaannya, aneh tapi nyata. Meski hati kesal tak ada tindakan lebih yang bisa dilakukan selain berdo’a, memberikan bantuan materi, dan demonstrasi-demonstari di seluruh penjuru dunia.

Mungkin kita sedikit merasa lega ketika gencatan senjata disepakati oleh kedua belah pihak. Meski gencatan senjata tercapai, agresi militer Israel telah menyisakan derita fisik dan psikis yang mendalam bagi warga Gaza. Jumlah korban yang berjatuhan pun tidak sedikit. Seribu lebih warga Gaza tewas dan lebih dari empat ribu lainnya mengalami luka fisik yang parah. Puluhan ribu warga Gaza yang lain menderita. Anak-anak menjadi yatim piatu. Ratusan keluarga menjadi tuna wisma dan harus tinggal di kamp-kamp pengungsian. Gedung-gedung penting seperti masjid, rumah sakit, dan sekolahan berantakan. Ditambah lagi embargo ekonomi yang belum dicabut hingga detik ini.

Meski agresi militer Israel ke Gaza telah mereda, bukan berarti tugas kita berhenti sampai di sini. Pasca agresi militer Israel ke Gaza yang berujung gencatan senjata, pasti menyisakan sederetan tugas yang harus segera diselesaikan. Selain itu masih banyak tugas yang harus diselesaikan oleh umat Islam untuk mendapatkan kemerdekaan Palestina yang sejati. Perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana kota Gaza, pemulihan goncangan psikologis warga Gaza, penyembuhan warga yang terluka, dan pendistribusian bantuan adalah beberapa contoh tugas yang harus segera dikerjakan.

Umat Islam harus mulai memikirkan cara menolong rakyat Palestina dalam jangka panjang, bukan pertolongan sesaat yang hanya dilakukan bila ada penindasan oleh Israel seperti tragedi Gaza beberapa waktu lalu. Salah satu caranya adalah membela dan menolong Palestina melalui bisnis. Sudah menjadi rahasia umum bila bisnis memiliki peran signifikan dalam percaturan politik dunia. Karena memang bisnis dan politik sulit dipisahkan seperti dua sisi mata uang logam. Israel sendiri dapat berdiri sombong menentang dunia karena didukung oleh faktor bisnis yang kuat. Dana yang mereka gunakan untuk membantai rakyat Palestina tak kunjung habis. Setiap hari uang milyaran dolar mengalir deras ke kantong mereka. Ironinya uang itu adalah uang umat Islam yang telah membeli produk-produk bisnis mereka. Uang umat Islam ini telah berhasil mereka manfaatkan untuk membeli jutaan peluru dan bom, ratusan tank, puluhan pesawat dan kapal laut, hingga pembayaran gaji ribuan tentara mereka.

Oleh karena itu, sikap bisnis pertama yang harus kita lakukan adalah memboikot produk-produk mereka. Biarkan bisnis mereka bangkrut dengan pemboikotan ini. Langkah ini cukup efektif untuk membatasi kekejaman mereka terhadap rakyat Palestina. Pasalnya sekitar 75% konsumen loyal mereka adalah umat Islam. Bila langkah boikot tidak cukup merugikan kekuatan finansial mereka, paling tidak kita tidak ikut berpartisipasi dalam pembantaian Israel terhadap Palestina. Selain memboikot produk-produk Israel/Yahudi, umat Islam juga melakukan langkah bisnis lain yang lebih terencana. Kita bisa mencontoh apa yang telah dilakukan negara China yang telah “membantu” rakyat Palestina dalam mengatasi embargo ekonomi Israel dan Amerika. Produk-produk buatan China mampu menerobos masuk ke Palestina dengan harga murah. Dengan harga yang murah tersebut, perusahaan-perusahaan Cina membantu warga Palestina yang selama ini tergantung dengan produk Turki dan Israel. Terlebih lagi, Palestina kini sedang mengalami krisis ekonomi sehingga daya beli masyarakatnya menjadi rendah, dan produk Cina sangat membantu karena murah. Sebagaimana penjelasan direktur kamar dagang Palestina pada tahun 2005, Dr. Maher Al-Tabba, di Jalur Gaza pada situs berita, IslamOnline.net (IOL), “Komoditas Cina jauh lebih murah, dan bisa terjangkau oleh orang-orang Palestina berpenghasilan rendah”. Kemudian situs berita itu melanjutkan, bahkan seorang ibu di Palestina bernama Reem Shahein, mengaku bahwa semua barang-barang yang ada di rumahnya merupakan buatan Cina hingga ke mainan dan barang-barang kebutuhan anaknya. Dan anaknya pernah bergurau mengenai hal ini dengan bertanya, “Ibu apakah kami ini buatan Cina juga?”. Di Palestina, Cina telah menguasai sekitar 80 % pasar negara tersebut dan berhasil menggeser dominasi produk-produk buatan Turki dan Israel. Dalam keadaan negara yang sedang diembargo oleh Amerika Serikat dan Eropa, Palestina mendapatkan sedikit angin segar dengan masuknya produk-produk Cina ke negara tersebut. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan China, umat Islam harus berusaha semaksimal mungkin membantu Palestina dengan kekuatan Bisnis. Kita harus mempunyai produk-produk sendiri yang dapat sampai ke rakyat Palestina. Keuntungan dari sektor bisnis kita juga dapat digunakan untuk membangun kembali kota Gaza setelah porak poranda akibat agresi militer Israel. Lebih jauh lagi keuntungan bisnis dapat digunakan untuk membeli senjata bagi rakyat Palestina sehingga dapat menandingi persenjataan Israel. Semua langkah itu bisa dilakukan bila kita memiliki kekuatan bisnis yang memadai