Perdagangan atau jual beli atau istilah kerennya bisnis adalah salah satu kebutuhan hidup manusia. Ia selalu menyertai manusia sepanjang sejarahnya. Bisnis hadir melengkapi kebutuhan manusia lainnya. Tidak sekedar melengkapi, tetapi sebagai salah satu kebutuhan utama. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan untuk saling tukar menukar barang yang diperlukan. Karena tidak ada satu manusia pun yang memiliki semua barang yang dibutuhkannya. Satu manusia membutuhkan suatu barang, dan yang lainnya memiliki barang yang dicari, atau sebaliknya. Sehingga diantara manusia perlu adanya interaksi untuk saling memenuhi kebutuhan akan suatu barang. Interaksi inilah yang kemudian dikenal dengan nama perdagangan. Sebelum ditemukannya alat tukar seperti mata uang, perdagangan dilakukan dengan cara saling menukar barang. Kegiatan perdagangan yang sering dibilang kuno ini disebut dengan istilah barter. Misalnya, seseorang memiliki dua ekor ayam, satu ekor ayam ditukar dengan dua liter beras milik orang lain. Sehingga ia memiliki satu ekor ayam dan dua liter beras yang dapat dinikmatinya. Sistem perdagangan barter berlangsung cukup lama. Hingga pada akhirnya ditemukanlah alat tukar atau mata uang. Awalnya setiap daerah atau wilayah memiliki alat tukar yang berbeda-beda. Ada yang terbuat dari emas, perak, kertas, ataupun kayu khusus. Yang terpenting benda-benda tersebut dapat dijadikan alat tukar dan diterima oleh masyarakat. Dengan adanya alat tukar, perdagangan atau bisnis pun menjadi lebih kompleks. Tidak sesederhana ketika menggunakan sistem barter. Diversifikasi bisnis juga menjadi berkembang dan menciptakan sejumlah peluang bisnis baru seperti lembaga penyimpanan uang, penukaran uang, dan lain sebagainya. Kemudian bisnis menjadi lebih berkembang lagi ketika satu daerah dengan daerah lain dapat saling berhubungan. Ini didukung oleh berbagai perkembangan alat transportasi yang memudahkan terjadinya perpindahan barang antar wilayah. Sehingga satu daerah dapat mengambil barang yang diperlukan yang tidak ada di tempatnya dari daerah lain. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia beserta ilmu pengetahuan yang dimiliki, bisnis juga berkembang. Berbagai barang atau komoditas baru menyerbu dunia bisnis dan memaksa kita untuk turut memperdagangkannya. Tidak hanya barang sandang, pangan, dan papan yang diperdagangkan. Tetapi juga barang-barang kebutuhan lain seperti jam, kendaraan beroda, alat komunikasi, aksesoris, alat-alat kerja dan produksi, sampai kepada peralatan perang. Selain jenis barang yang bertambah, cara, media atau sistem bisnis yang dipakai pun berkembang. Perkembangan ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan bisnis yang ada. Maka muncullah lembaga keuangan dengan perangkatnya yang mempermudah aliran uang. Cara bisnis pun sekarang beragam, dari cara lelang hingga cara multi level marketing (MLM). Tidak ketinggalan, media yang digunakan untuk berbisnis juga berkembang. Misalnya seorang pebisnis tidak perlu pindah membawa barang dagangan dari satu tempat ke tempat lain untuk berpromosi yang terkadang mempunyai perbedaan jarak yang jauh. Karena para pebisnis dapat menggunakan media seperti radio, televisi, dan surat kabar. Bahkan mereka dapat melakukan transaksi lintas benua dengan media yang bernama internet. Perkembangan-perkembangan seperti inilah yang patut disyukuri oleh para pelaku bisnis.

Kemudian universal adalah salah satu sifat bisnis yang kentara. Artinya, bisnis bukan suatu hal yang hanya berhak dimiliki oleh seseorang, bangsa, atau satu agama saja. Semua orang, siapapun dia dan apapun latar belakangnya berhak untuk berbisnis. Semua orang berhak memenuhi kebutuhan hidupnya dari bisnis. Kemudian perbedaan latar belakang tersebut membuat dunia bisnis menjadi ramai dan lebih kompleks. Karena setiap orang atau bangsa memiliki peraturan atau ketentuan yang berbeda yang bertemu dengan orang dari bangsa lain yang memiliki peraturan berbeda pula. Dengan demikian, bisnis menjadi bersifat heterogen sebagai akibat dari sifat universalnya. Selanjutnya, heterogenitas (keheterogenan) bisnis tidak hanya membawa kebaikan, tetapi juga keburukan. Bersama dengan keheterogenannya ini, bisnis melanda berbagai agama termasuk Islam. Bila semua agama menerima mentah-mentah keheterogenan bisnis, atau paling tidak sebagian dari keburukannya. Maka Islam hanya menerima yang baik dan menolak semua yang buruk dari heterogenitas bisnis. Dan ini adalah salah satu keunggulan dari Islam sebagai rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, Islam mengatur bisnis dengan sangat baik. Pada dasarnya, Islam menghalalkan bisnis. Sebagaimana yang dikatakan Al Qur’an pada Surat Al Baqarah ayat 275;

 

”….padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Q.S. Al Baqarah : 275)

 

Tidak hanya mubah atau halal, bisnis juga bisa menjadi penilaian mulia atau tidaknya suatu kaum di mata Allah. Seperti yang terdapat pada sebuah hadist;

”Apabila Allah menginginkan kemajuan dan kesejahteraan kepada suatu kaum maka Allah memberi mereka karunia kemudahan dalam jual-beli dan kehormatan diri. Namun bila Allah menginginkan bagi suatu kaum kemacetan dan kegagalan maka Allah membuka bagi mereka pintu pengkhianatan”. (HR. Ath-Thabrani)

 

Sebenarnya masih banyak hadist yang menyuruh kita untuk mencari nafkah, termasuk didalamnya dengan jalan berdagang atau bisnis. Diantaranya yaitu;

”Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak”. (Mutafaq’alaih)

 

”Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan”. (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)

 

Islam memang menghalalkan jual beli atau bisnis. Tapi hal itu bukan berarti tidak memberikan filter terhadapnya. Karena seperti yang kita ketahui bersama, pada bisnis juga terdapat keburukan yang harus ditolak. Untuk menolak keburukan tersebut, Islam memberikan sebuah hukum atau aturan tentang halal atau haramnya bisnis. Aturan tersebut meliputi barang yang diperjual belikan, cara yang digunakan, hingga penggunaan keuntungan yang didapat. Aturan tentang barang yang diperdagangkan misalnya

”Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Baqarah: 173)

 

Bila makanan diatas diharamkan untuk memakannya, apalagi memperjual belikannya. Keduanya haram baik secara sembunyi ataupun terang-terangan. Kemudian aturan mengenai cara yang diharamkan misalnya seperti yang dijelaskan oleh Al Qur’an;

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q.S. An Nisaa’ : 29)

 

Pada suatu hadist qudsi juga disebutkan;

”Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi) :”Aku yang ketiga (bersama) dua orang yang berserikat dalam usaha (dagang) selama yang seorang tidak berkhianat (curang) kepada yang lainnya. Apabila berlaku curang maka Aku ke luar dari mereka”. (H.R. Abu Dawud)

 

Terhadap keburukan-keburukan bisnis kita diperintahkan untuk menolaknya. Dan aturan-aturan mengenai halal dan haramnya, kita harus mentaatinya. Juga kita diperingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan harta atau keuntungan dari hasil bisnis. Sehingga kita pun diharapkan menjadi seorang pebisnis muslim yang kaya, diridhai, dan bermanfaat bagi umat.


Sumber: Ramdan, Anton. Islam Business Spirit. Penerbit: Bee Media