Yahudi Masa Pemerintahan Islam

Yahudi Pada Masa Pemerintahan Islam

Ketika nabi Muhammad SAW diutus ke tengah-tengah bangsa Arab, di sana sudah hidup dan menetap orang-orang Yahudi. Kaum Yahudi yang tinggal di Madinah merupakan keturunan Kaum Yahudi yang dahulu terpencar ke berbagai belahan dunia. Di Madinah terdapat tiga suku Yahudi yang terkenal yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Kaum Yahudi sudah cukup lama tinggal di Madinah. Mereka menetap dan bergaul seperti layaknya seorang Arab-Madinah asli. Mereka berbahasa Arab, berpakaian seperti orang Arab, bahkan banyak yang menikah dengan orang Arab (Madinah). Walapun begitu mereka masih memiliki fanatisme ras yang sangat tinggi. Mereka menganggap kaum di luar ras mereka sebagai kaum yang bodoh, hina dan primitif, bahkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang di luar kaum mereka. Bagi mereka, mengambil harta dan hak-hak di luar ras mereka tidak akan membuat mereka berdosa. Mereka selalu membangga-banggakan ras mereka sebagai ras yang paling unggul diantara bangsa-bangsa lain. Inilah salah satu sifat asli mereka sebagai orang-orang Yahudi. Tidak hanya itu mereka juga suka mengadu domba kabilah-kabilah Arab yang ada di Madinah untuk saling berperang. Terkadang mereka lah yang langsung berperang dengan sebagian kabilah Arab yang ada di Madinah. Dahulu sebelum diutusnya Muhammad SAW sebagai nabi dan Rasul, ketika mereka berperang dengan kabilah-kabilah Arab, mereka selalu mengancam bahwa mereka akan mengalahkan semua kabilah Arab yang ada di Madinah jika nabi terakhir yang mereka tunggu-tunggu telah datang. Mereka mengira bahwa nabi yang diutus terakhir untuk manusia berasal dari bangsa mereka (Yahudi).Tetapi mereka salah sangka, nabi dan rasul terakhir yang diutus ternyata berasal dari bangsa Arab.

Ketika nabi Muhammad SAW sampai di Madinah, kehidupan bisnis di Madinah dikuasai oleh bangsa Yahudi. Meskipun memang ada beberapa saudagar Arab-Madinah yang kaya raya. Mereka, orang-orang Yahudi, memang dikenal sebagai kaum yang pandai sekaligus licik dalam mengelola bisnis mereka di Madinah. Komoditas-komoditas penting mereka kuasai seperti biji-bijian, korma, khamr, dan kain. Mereka memasukan biji-bijian, kain, dan khamr dari luar ke kota Madinah. Pasalnya masyarakat Arab bukan masyarakat yang bergerak dalam bidang industri atau pun kerajinan sehingga komoditas-komoditas tersebut perlu diimpor. Yang terkenal dari bangsa Arab ketika itu ialah korma sebagai hasil perkebunan lokal. Sementara itu, kaum Yahudi Madinah mengekspor korma ke luar kota Madinah. Tidak hanya bermain bisnis dalam komoditas-komoditas tersebut, kaum Yahudi juga menyebarkan dan memakmurkan pinjaman-pinjaman dengan bunga berkali-kali lipat atau yang kita kenal sebagai riba. Mereka meminjamkan sejumlah uang kepada orang-orang Arab dengan bunga yang cukup besar dan tentu saja meminta jaminan seperti tanah, kebun, perhiasan, atau rumah. Pastinya ini sangat memberatkan orang yang diberi pinjaman tersebut. Terlebih lagi mereka mengambil jaminan yang ada jika orang-orang yang diberi pinjaman tidak mampu membayar hutang mereka. Mereka juga memberi dana pinjaman berbau riba kepada kabilah-kabilah Arab yang sedang saling berperang dan tentu juga dengan suatu jaminan. Biasanya dana tersebut digunakan untuk membiayai semua keperluan peperangan. Hal ini sangat merugikan kabilah-kabilah Arab yang sedang berperang tersebut, kalah atau pun menang karena mereka harus mengembalikan dana yang dipinjamkan oleh kaum Yahudi kepada mereka. Dengan demikian tidak heran jika kondisi sosial dan ekonomi bangsa Arab ketika itu sangat memprihatinkan sebagai akibat praktik riba yang dijalankan oleh orang Yahudi. Keadaan ini sangat menguntungkan Yahudi karena mereka dapat mengendalikan bisnis dan perpolitikan yang ada di Madinah ketika itu[1].

Kehadiran Islam di Madinah merupakan suatu hal yang sangat mengganggu bagi kaum Yahudi. Kedatangan Islam ke Madinah akan mengubah sistem bisnis dan perpolitikan yang ada di Madinah. Pasalnya Islam datang ke Madinah dengan membawa misi keyakinan, keadilan, dan persatuan. Jika semua misi yang dibawa Islam ke Madinah berhasil atau tercapai, maka ini akan sangat merugikan kaum Yahudi yang selama ini bertahan dengan menjalankan bisnis yang jauh dari keadilan dan berada di belakang perpecahan kabilah-kabilah Arab. Oleh karena itu, kaum Yahudi ketika itu telah berpikir dan berhitung dari jauh-jauh hari sebelum Islam datang ke Madinah. Mereka berpikir dan berusaha untuk menjauhkan Islam dari Madinah, atau pun bila Islam telah masuk ke Madinah mereka berusaha untuk mengalahkan Islam dengan kekuatan mereka. Namun usaha yang mereka lakukan selalu gagal dengan pertolongan Allah kepada orang-orang muslim. Hal yang pertama kali dilakukan nabi Muhammad SAW ketika sampai di Madinah adalah menyatukan kaum muhajirin (muslim yang datang dari Makah) dengan kaum Anshar (muslim asli Madinah). Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin pun memberikan perlindungan kepada orang-orang Yahudi yang mau berdamai dengan kaum muslimin. Itu terbukti dengan diadakannya perjanjian antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Tetapi bagi kaum Yahudi yang tidak mau berdamai dan mengadakan permusuhan, maka mau tidak mau kaum Muslimin harus memeranginya. Walaupun sudah mengikat perjanjian dengan kaum Muslimin, kaum Yahudi selalu mengganggu kehidupan orang-orang muslim karena kebencian dan kedengkian yang ada pada hati mereka. Mereka memang tidak secara terang-terangan mengajak perang dengan kaum muslimin, karena mereka tidak pandai berperang. Mereka hanya berani menghembuskan permusuhan dan perpecahan diantara kaum Muslimin. Salah satu contohnya adalah yang mereka lakukan terhadap suku Aus dan Khazraj (suku asli Madinah). Dahulu sebelum datangnya Islam ke Madinah kedua suku ini selalu berselisih dan berperang. Tentu saja perselisihan dan peperangan ini dilatarbelakangi oleh kaum Yahudi yang mengambil keuntungan dari pertikaian tersebut. Setelah Islam datang ke Madinah, kedua suku tersebut berhasil dipersatukan dalam naungan Islam. Tetapi Yahudi tidak tinggal diam. Oleh karena itu, untuk menghancurkan Islam, kaum Yahudi kembali mengungkit fanatisme kesukuan dan perselisihan yang pernah terjadi antara suku Aus dan Khazraj. Namun usaha ini diketahui oleh nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin yang lain sehingga pertempuran antara kedua suku tersebut dapat dihindari.

Dalam melanggar perjanjian, kaum Yahudi dari Bani Qainuqo adalah yang pertama kali berani melakukannya dibanding dengan dua suku Yahudi yang lain. Dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah para perajin perhiasan, pandai besi, pembuat perkakas rumah tangga, senjata dan perlengkapan perang. Kesombongan dan keangkuhan mereka semakin menjadi-jadi bahkan mereka menantang untuk berperang terlebih lagi membunuh seorang pengikut nabi Muhammad SAW tanpa alasan yang jelas. Pembunuhan seorang muslim tersebut membuat kemarahan nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin yang lain. Oleh karena itu, pasukan muslimin mendatangi benteng Bani Qainuqo dan menyerang mereka. Namun pertempuran besar tidak terjadi ketika itu, karena Bani Qainuqo menyerah sebelum berperang. Sebagai hukumannya, Bani Qainuqo diusir ke luar Madinah sejauh-jauhnya. Kemudian mereka memutuskan untuk pergi dan tinggal ke perbatasan Syam. Begitu juga yang dilakukan oleh Bani Nadhir dari kalangan Yahudi. Mereka mengikuti jejak Bani Qainuqo dalam menentang Islam dan pengikutnya. Mereka bersekongkol dengan kaum Munafik dalam rencana memerangi Islam. Dan nasib yang mereka alami pun sama dengan yang dialami oleh Bani Qainuqo yaitu menyerah tanpa perlawanan dan kemudian diusir ke luar Madinah. Dan tentu saja tidak hanya kehilangan tanah tempat tinggal, Bani Nadhir pun seperti Bani Qainuqo yang harus kehilangan bisnis yang mereka jalani selama di Madinah. Hal ini disebabkan oleh keangkuhan, keserakahan dan pengkhianatan mereka terhadap perjanjian yang telah disepakati dengan kaum Muslimin. Ternyata memang watak kaum Yahudi yang angkuh dan sombong sulit dihilangkan. Ini pula lah yang terjadi dengan Bani Quraizhah, suku Yahudi yang terkenal selain Bani Qunaiqo dan Bani Nadhir. Seharusnya Bani Quraizhah mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi terhadap dua suku Yahudi lainnya. Tetapi mereka malah mengikuti jejak Bani Qunaiqo dan Bani Nadhir dalam mengkhianati perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin. Mereka terlibat persekongkolan dengan kaum kafir musyrikin dalam memerangi Rasulullah SAW beserta para pengikutnya pada perang yang terkenal dengan perang Ahzab atau perang Khandak. Pada perang tersebut kemenangan diraih oleh kaum muslimin, sementara kekalahan dirasakan oleh kaum musyrikin dan ahli kitab Yahudi. Oleh karena itu mereka, Bani Quraizhah harus membayar mahal atas pengkhianatan yang mereka lakukan. Setelah kemenangan diraih oleh kaum muslimin pada perang Khandak, maka langkah selanjutnya adalah membuat perhitungan dengan Bani Quraizhah. Lalu Rasulullah SAW beserta kaum muslimin yang ditunjuk pergi ke perkampungan Bani Quraizhah untuk berperang melawan mereka. Kaum muslimin mengepung benteng mereka selama kurang lebih 25 hari. Setelah pengepungan selesai, maka kaum muslimin pun mulai masuk ke dalam benteng Bani Quraizhah. Hasilnya, Bani Quraizhah menyatakan menyerah atas penyerangan tersebut. Sekitar 600 atau 700 laki-laki dari pasukan Bani Quraizhah dipenggal di parit-parit yang telah disediakan, kecuali beberapa orang tertentu. Sementara itu, anak-anak dan kaum wanita ditawan dan ditempatkan di suatu tempat. Sekali lagi hal ini menyebabkan Bani Quraizhah kehilangan harta benda dan bisnis serta perniagaan yang selama ini mereka miliki. Itu disebabkan karena kerakusan dan pengkhianatan mereka. Beberapa waktu setelah ketiga suku Yahudi tersebut diperangi, keadaan sejenak tenang di kalangan umat Islam. Tetapi tidak lama kemudian, kaum Yahudi kembali membuat makar dan persiapan untuk melawan kaum muslim. Kali ini bukan salah satu dari ketiga suku tersebut, tetapi gabungan atau campuran dari ketiga suku tersebut. Nama peperangan ini dikenal dengan perang Khaibar yang diambil dari daerah yang ditempati oleh kaum Yahudi yaitu Khaibar. Ketika perang-perang sebelumnya, kaum Yahudi yang tidak dibunuh dan diusir keluar Madinah, sebagian mereka berpindah dan tinggal di Khaibar, khususnya Bani Nadhir. Jadi di Khaibar tersebut terdapat sebagian besar Bani Nadhir, sebagian Bani Qainuqo, dan sedikit dari Bani Quraizhah. Mereka tinggal di Khaibar dan melakukan berbagai aktifitas yang biasa mereka lakukan termasuk menjalankan bisnis dan perniagaan. Di Khaibar terdapat banyak benteng yang harus dilalui untuk dapat masuk dan mengalahkan musuh di dalamnya. Itulah yang harus ditempuh Rasulullah SAW beserta kaum muslimin, memenangkan dan merebut setiap benteng apa pun resikonya. Namun tidak semua benteng yang ada direbut dengan pertempuran, sebagian pasukan Yahudi di beberapa benteng menyerah sebelum bertempur. Akhirnya kaum muslimin dapat menaklukan seluruh benteng yang ada di Khaibar. Dalam pertempuran di pihak kaum muslimin jatuh korban sekitar 23 orang, sedangkan di pihak kaum Yahudi jatuh korban sebanyak kurang lebih 70 orang termasuk beberapa tokoh-tokoh penting mereka. Inilah sedikit gambaran tentang kehidupan Yahudi dan bisnisnya pada masa pemerintahan Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Kehancuran bisnis dan kehidupan kaum Yahudi tidak lain disebabkan sikap buruk mereka yang selalu melanggar perjanjian dengan kaum muslimin.

Pertempuran dan peperangan bukan suatu faktor yang paling berpengaruh terhadap keruntuhan monopoli bisnis kaum Yahudi di jazirah Arab ketika masa kenabian. Ada faktor lain yang juga berpengaruh dan berhasil meruntuhkan monopoli bisnis Yahudi dengan segala kelicikannya. Faktor pertama adalah tidak berlakunya lagi sistem riba yang dijalankan Yahudi dalam perniagaan orang-orang Arab. Ketika datangnya Islam, perdagangan dan pinjam meminjam dengan sistem riba diharamkan. Oleh karena itu, semua umat Islam membuang jauh-jauh racun perdagangan yang bernama riba itu. Faktor kedua adalah munculnya para pedagang-pedagang unggul dari kalangan umat Islam seperti Suhai Ar-Rumi, Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khatab, dan Usman bin Afan. Khususnya Abdurrahman bin Auf, ia merupakan orang Islam yang berhasil membuat banyak para pebisnis Yahudi kala itu harus gulung tikar karena tidak dapat menyaingi kepandaiannya dalam berbisnis. Dan yang perlu diingat adalah nabi Muhammad SAW sendiri merupakan seorang pebisnis yang handal pada saat sebelum diangkat menjadi rasul. Namun kemudian, beliau memutuskan untuk lebih berkonsentrasi dalam memimpin dan membina umat.

Setelah nabi Muhammad SAW wafat, pemerintahan Islam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Khilafah diamanahkan kepada umat Islam. Masa awal khilafah Islam dipegang oleh empat pahlawan Islam yang terkenal yaitu Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Afan, dan Ali bin Abi Thalib. Masa pemerintahan mereka disebut dengan masa Khulafaturrasyidin. Di tangan mereka, Islam disebarkan ke seantero dunia. Hasilnya wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Mereka melakukan pertempuran dan penaklukan wilayah demi wilayah. Mereka mengajak suatu wilayah untuk memeluk Islam, jika tidak mau maka mereka harus membayar Jizyah (pajak) perlindungan. Bila tidak mau memilih salah satu darinya, maka mereka diperangi hingga takluk. Ketangguhan keempat pemimpin Islam ini sudah terkenal baik dikalangan muslim maupun dikalangan musuhnya. Bahkan mereka berhasil menumbangkan dua kerajaan adidaya ketika itu Kerajaan Romawi dan Kerajaan Parsi (Persia). Meskipun begitu, kaum Yahudi yang berada dalam perlindungan pemerintahan Islam ketika itu sangat dilindungi bahkan diberikan keleluasaan dalam bekerja dan berbisnis. Mereka berbisnis seperti halnya umat Islam lainnya. Masa pemerintahan keempat Kholifah yang dikenal dengan Khulafaturrasyidin akhirnya pun harus berakhir. Pemerintahan Islam selanjutnya diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya. Pada generasi seterusnya, pemerintahan Islam lebih cenderung kepada sistem Kerajaan atau Kesultanan ketimbang sistem kekhilafahan, walau mayoritas masyarakat Islam menyebutnya sebagai khilafah. Perbedaan sederhana dapat dilihat antara sistem khilafah dan kesultanan yaitu pada penunjukkan jabatan khilafah atau sultan selanjutnya. Pada sistem khilafah penunjukkan kholifah selanjutnya adalah berdasarkan ketaqwaan dan kemampuan, sedangkan pada sistem kesultanan penunjukkan sultan berikutnya adalah berdasarkan keturunan. Lalu bagaimana nasib kaum Yahudi dan kehidupan bisnisnya pada masa kesultanan Islam ini?. Jawabannya sama pada saat kaum Yahudi berada di bawah pemerintahan khilafah Islam. Mereka hidup dan melakukan aktifitas bisnis dalam perlindungan kesultanan Islam. Mereka tidak berani berpikir untuk menentang apalagi melakukan pemberontakan kepada khilafah Islam ketika itu. Kecuali pada masa pemerintahan kesultanan Islam yang terakhir dimana kondisi pemerintahan Islam pada saat ini benar-benar sangat lemah.


[1] Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Cetakan ke-15. Februari 2004. hal.243.

1 Komentar (+add yours?)

  1. lela
    Mar 15, 2011 @ 12:59:21

    terima kasih ya atas ilmunya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: