Pebisnis Yahudi dengan bisnis atau perusahaannya telah memiliki sejarah yang rumit dan kompleks. Begitu juga ia memiliki masa sekarang dimana bisnisnya sedang berada di atas angin. Kita telah mengakui, mau tidak mau, bahwa bisnis Yahudi telah menguasai setiap celah dan bidang bisnis di seluruh dunia. Para pebisnis Yahudi pun muncul sebagai orang-orang sukses dan kaya raya. Mereka telah mampu membangun imperium bisnis dunia dengan perusahaan yang menjadi  korporasi multinasional. Dengan bisnisnya, para pebisnis Yahudi telah dapat berbuat banyak untuk kaumnya. Terkhusus lagi memberikan sumbangsih besar bagi negara impian mereka, Israel Raya. Selain itu, mereka juga dapat melakukan banyak hal melalui bisnisnya. Seperti misalnya turut campur dalam ranah politik yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bisnis ataupun bangsa mereka. Telah menjadi rahasaia umum bahwa mereka mengalirkan dana milyaran dolar ke Israel tiap tahunnya. Dana itu didapatnya dari hasil bisnis mereka melalui eksploitasi pasar internasional dan eksploitasi sumber daya alam negara-negara berkembang yang ternyata memiliki kekayaan lama yang melimpah ruah, teristimewa Indonesia.

Di negeri ini, Indonesia, kita pun telah menyaksikan sepak terjang bisnis dan perusahaan Yahudi dalam mencari keuntungan demi keuntungan. Dari tahun ke tahun, perusahaan mereka satu persatu menyambangi negeri ini sejak dahulu kala. Celah demi celah bisnis di negeri ini mereka manfaatkan dengan baik. Satu bidang bisnis ke bidang bisnis lainnya terus dikuasai dan mereka mencoba untuk memonopolinya. Mulai dari bisnis retail barang-barang kebutuhan sehari-hari hingga produk berteknologi tinggi. Untuk memenuhi ambisisnya, mereka tidak segan-segan mengeksploitasi sumber daya bangsa ini, dari sumber daya manusia hingga sumber daya alamnya. Mereka mengeksploitasi dari wilayah kota hingga ke pelosok-pelosok hutan. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan yaitu uang. Dan ternyata mereka pun telah mendapatkan tujuan itu hari ini. Berton-ton emas, perak, tembaga, dan logam lainnya bernilai milyaran dolar berhasil mereka eksploitasi. Tidak ketinggalan kekayaan alam non logam yang dimiliki negeri ini pun telah mereka eksploitasi. Rupiah demi rupiah secara sukarela kita berikan kepada mereka dengan membeli produk-produk buatan mereka. Kita pun turut menyukseskan bisnis mereka dan menyingkirkan pebisnis lokal Indonesia, terutama pedagang kecil melalui cara yang sama. Lihat bagaimana bisnis retail mereka mampu menggusur pasar-pasar tradional yang menempati lahan-lahan strategis. Bahkan terkadang lahan-lahan taman pun tidak luput dari ambisi bisnis mereka. Hanya karena lahan taman itu berlokasi strategis untuk pengembangan bisnis.

Kemudian yang pasti, bisnis Yahudi telah berhasil membangun pondasinya yang kuat di negeri ini. Bahkan bagi saya, mereka telah membangun lebih dari sekedar pondasi. Mereka telah membangun dinding dan menetapkan kamar-kamar. Hingga nantinya di masa-masa yang datang mereka tinggal membangun atap dan menyempurnakan rumah bisnis mereka di tanah air ini. Saya melihat bahwa bisnis mereka telah mencapai titik kulminasi yang mengkhawatirkan bagi bangsa ini, saat ini. Lalu bagaimana sepak terjang para pebisnis Yahudi melalui perusahaannya di masa depan di negeri ini, Indonesia?. Kita tidak pernah tahu itu. Tapi yang jelas ada beberapa faktor yang mendukung perkembanan bisnis mereka di negeri ini di masa yang akan datang. Diantara faktor-faktor itu, yang paling mendukung dan jelas direka adalah peran globalisasi dan peran presiden Amerika Serikat yang sedang tenar, Barack Obama.

 

Peran Globalisasi

Dalam bahasa Inggris, Globalization berasal dari kata dasar Global yang artinya sedunia atau sejagad. Atau global juga bisa diartikan dengan universal. Kata globalization kemudian disadur ke dalam bahasa Indonesia menjadi globalisasi. Secara istilah, globalisasi bisa diartikan sebagai proses penyatuan negara-negara di dunia ke dalam satu sistem/aturan perekonomian tanpa menghapuskan keberadaan suatu negara secara geografis. Sebenarnya, bukan sistem perekonomian saja yang dipengaruhi oleh globalisasi. Tetapi juga globalisasi dapat berdampak pada politik, budaya, hukum, lingkungan hidup, dan aspek kehidupan lainnya. Namun sering kali kata globalisasi diidentikan dengan aspek ekonomi. Karena memang yang paling terlihat jelas pada globalisasi adalah mengenai perekonomian seperti penghapusan biaya masuk bagi produk ke suatu negara. Selain itu, yang pertama kali terlihat dari berlakunya globalisasi adalah perubahan perekonomian dunia, terkhusus sektor perdagangan. Dalam globalisasi perekonomian, minimal ada lima sektor perekonomian yang mengalami globalisasi yaitu produksi, investasi, sumber daya manusia, informasi, dan perdagangan. Di sektor produksi, globalisasi akan berdampak pada pendirian perusahaan/pabrik di berbagai negara untuk menghemat biaya produksi. Globalisasi perekonomian juga akan menyebabkan terjadinya globalisasi investasi/modal. Modal akan dapat dengan mudah keluar masuk kedalam dan keluar dari suatu negara. Kemudian, globalisasi itu juga akan berdampak pada terciptanya globalisasi sumber daya manusia atau tenaga kerja. Suatu perusahaan multinasional misalnya dapat memakai tenaga kerja manapun yang mereka sukai. Sehingga akan terjadi persaingan bebas diantara para tenaga kerja. Dengan berlakunya globalisasi, arus pergerakan tenaga kerja di seluruh dunia akan lebih cepat, mudah, dan bebas. Mereka akan bergerak kepada perusahaan mana yang akan menggunakan jasa mereka. Lalu ada yang namanya globalisasi informasi yang menyebabkan semakin meningkatnya arus informasi antarnegara dan semakin bebasnya informasi itu sendiri. Dan terakhir yang paling banyak dikhawatirkan oleh banyak orang adalah globalisasi perdagangan atau perdagangan bebas. Salah satu bentuk dari perdagangan bebas ialah dihapuskannya hambatan perdagangan bebas antarnegara. Tarif perdagangan seperti bea masuk produk impor akan mengalami penurunan drastis bahkan bisa jadi dihapuskan. Sehingga benar-benar terjadi persaingan yang sangat ketat antara perusahaan-perusahaan di dunia, baik perusahaan besar maupun perusahaan menengah dan kecil.

Perdagangan bebas merupakan suatu sistem yang sepertinya tidak bisa dihindarkan. Setiap negara mau tidak mau akan terseret ke dalam perdagangan bebas ini. Sistem perdagangan bebas ini akan menyeret setiap negara, tidak peduli apakah negara itu tergolong negara maju, negara berkembang, atau negara miskin sekalipun. Oleh Karena itu, setiap negara harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karena memang negara yang siap akan menjadi pemenang dan negara yang tidak siap akan menjadi pecundang. Meski memang berdasarkan kesepakatan dalam World Trade Organization (WTO) bahwa penerapan perdagangan bebas memiliki waktu yang berbeda. Untuk negara maju perdagangan bebas akan dilaksanakan pada tahun 2010. Sedangkan negara berkembang akan memulai perdagangan bebas pada tahun 2020. Sebelum siap menghadapi globalisasi atau perdagangan bebas, banyak negara yang telah mencoba menerapkannya di kawasan masing-masing diantaranya yaitu NAFTA (North America Free Trade Area), APEC (Asia Pacific Economic Community), dan Uni Eropa. NAFTA adalah penerapan perdagangan bebas antara negara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sedangkan APEC merupakan percobaan perdagangan bebas untuk kawasan Asia Pacific. Dan Uni Eropa sendiri merupakan perdagangan bebas untuk negara-negara yang ada di Eropa. Salah satu bentuk penerapan perdagangan bebas Uni Eropa yaitu penyamaan mata uang bernama Euro yang dapat digunakan diseluruh negara Eropa, kecuali negara Inggris yang pernah menolak pemberlakuan mata uang itu.

Sedangkan di kawasan Asia Tenggara sendiri juda terjalin perdagangan bebas dengan negara-negara ASEAN yang meliputi Indonesia, Malaysia, Brunai, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Perdagangan bebas itu terjalin dalam suatu wadah bernama AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang akan dimulai secara efektif pada tahun 2010. Namun banyak pihak yang menyangsikan kesiapan Indonesia untuk turut masuk dalam era perdagangan bebas, terutama perdagangan bebas global pada tahun 2020. Ketidaksiapan ini hanya membuat bangsa ini menjadi korban dari era itu. Pihak yang menolak perdagangan bebas ini menyatakan bahwa beberapa bidang perdagangan Indonesia masih banyak yang belum siap seperti misalnya kesehatan. Layanan kesehatan rumah sakit-rumah sakit Indonesia masih kalah dengan rumah sakit negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Kedua negara tetangga itu memberikan layanan kesehatan yang baik dan murah, bahkan biaya pengobatan di sana bisa setengah harga dari harga biaya pengobatan di Indonesia. Sehingga dari tahun ke tahun, orang Indonesia yang berobat ke sana semakin bertambah. Terutama untuk penyakit-penyakit berat dan mahal seperti jantung dan kanker. Belum lagi ditambah dengan ketidaksiapan sumber daya manusia bangsa ini. Sampai saat ini sumber daya manusia seperti tenaga kerja di negeri ini masih kurang mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Kondisi politik Indonesia yang sering tidak stabil juga menjadi penghambat bagi kesiapan bangsa ini menghadapi era perdagangan bebas. Sistem pendidikan yang tidak mumpuni, relatif masih mahal, dan fasilitasnya yang seadanya menambah berat persoalan. Sedangkan pendidikan di negara lain memiliki sistem yang baik, fasilitas pendidikan yang lengkap, dan bahkan ada negara yang menanggung semua biaya pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Kemudahan ini akan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih unggul bagi mereka. Dan yang perlu diperhatikan adalah perdagangan bebas tidak hanya mempersoalkan tarif masuk bagi jasa atau produk suatu negara. Tetapi lebih dari itu, perdagangan bebas juga memperhatikan tentang kualitas produk yang masuk ke suatu negara. Jepang misalnya, meski telah menandatangani komitmen untuk menghapus 90% dari seluruh tarif bea masuk bagi produk Indonesia, Jepang masih menerapkan sistem standar tinggi bagi produk yang masuk ke negaranya. Hal ini masih memberatkan sebagian besar produk Indonesia yang dinilai masih berada dibawah standar kualitas yang diterapkan Jepang. Hasilnya, walaupun tarif bea masuk dihapuskan oleh negara itu bagi bangsa kita, tapi produk kita belum tentu lulus uji standar kualitas. Sebenarnya masih banyak lagi perihal ketidaksiapan bangsa ini dalam menghadapi era perdagangan bebas.

Lalu bagaimana hubungan antara globalisasi terutama globalisasi ekonomi terhadap perkembangan bisnis atau perusahaan Yahudi di negeri ini, Indonesia?. Kita tahun bahwa globalisasi ekonomi akan berdampak pada globalisasi produksi, investasi, sumber daya manusia, informasi, dan perdagangan. Globalisasi produksi ini akan membuat perusahaan-perusahaan multinasional mendirikan pabrik-pabriknya di banyak negara untuk menghemat biaya produksi. Kemudian globalisasi investasi akan menyebabkan aliran modal asing dari luar ke dalam negeri ini semakin mudah dan relatif lebih bebas. Globalisasi sumber daya manusia juga menyebabkan mudahnya arus masuk tenaga kerja asing ke negeri ini. Begitu juga globalisasi informasi akan melanda bangsa ini yang selanjutnya berdampak pada mudahnya arus informasi dari luar ke dalam negeri ini. Dan tak ayal lagi, globalisasi perdagangan akan mempermudah masuknya produk-produk impor ke dalam negeri ini. Di sisi lain kita lihat bahwa perusahaan-perusahaan Yahudi telah siap untuk menghadapi era globalisasi ekonomi ini. Mereka mempunyai pabrik dan cabang perusahaan di banyak negara. Tidak ada yang meragukan bahwa mereka memiliki modal yang luar biasa. Mereka juga memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan siap menghadapi globalisasi. Teknologi informasi mereka adalah yang terdepan. Dan mereka memiliki pondasi bisnis, strategi, dan teknik-teknik yang hebat seperti yang dijelaskan pada bab-bab sebelumnya. Diantara korporasi atau perusahaan multinasional, perusahaan Yahudi-lah yang paling kuat. Misalnya saja perusahaan Marks & Spencer, Oracle, Carrefour, News Corporation, Dunkin Donut, Microsoft, dan lain-lain. Semua perusahaan Yahudi telah berhasil menjadi yang terdepan di bidang bisnisnya. Dengan kata lain, mereka telah berhasil mengenggam perekonomian dunia. Bila kita tarik benang merah antara tuntutan globalisasi ekonomi dan kesiapan pebisnis atau perusahaan Yahudi. Maka perusahaan Yahudi akan semakin kuat dan terdepan dalam menjalankan bisnisnya, terutama di Indonesia yang merupakan target pasar utama bagi perusahaan atau produk asing. Indonesia menjadi sasasaran empuk bagi perkembangan bisnis korporasi multinasional, terutama perusahaan Yahudi yang telah lama bercokol di negeri ini. Pabrik-pabrik dan cabang perusahaan mereka akan bertambah banyak di negeri ini sebagai tuntutan globalisasi produksi. Modal-modal mereka akan membanjiri negeri ini yang terkenal haus akan modal. Produk-produk mereka akan lebih mudah menyerang dan menyebar bebas di negeri ini dan mengalahkan produk-produk lokal. Dan sesuai dengan tuntutan globalisasi informasi, maka produk-produk teknologi informasi mereka akan memenuhi bangsa ini. Sang spekulan ternama Yahudi, George Soros akan semakin mudah memainkan modalnya di negeri ini. Modalnya akan mencaplok satu persatu perusahaan yang ada di negeri ini. Outlet perusahaan waralaba mereka akan semakin menjamur dan mengalahkan perusahaan waralaba asli bangsa ini. Bisnis retail mereka, Carrefour contohnya, akan semakin merajalela dan menggusur pedagang kecil serta pasar tradisional. Para pebisnis atau pedagang asli bangsa ini, bila tidak mampu bersaing, akan dipaksa menggulung tikar bisnis mereka. Dan kemudian tidak ada pilihan lain selain bergabung dengan perusahaan mereka atau menjadi tenaga kerja di perusahaan mereka. Dan terakhir, kita hanyalah menjadi konsumen dan target pasar bagi produk-produk mereka.

Di masa depan sepak terjang pebisnis Yahudi terutama yang berasal dari Israel menjadi suatu ancaman tersendiri bagi Indonesia. Pada dasarnya ancaman ini datang dari kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh pebisnis dan perusahaan Yahudi seperti yang dijelaskan diatas atau pada bab-bab sebelumnya. Ancaman lainnya berasal dari peran globalisasi ekonomi dunia 2020 yang sangat mendukung dan menguntungkan pebisnis atau perusahaan multinasional milik Yahudi. Ancaman juga datang dari perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya yang tergabung dalam AFTA. Sebenarnya ancaman itu bukan dari perdagangan bebas AFTA sendiri, tetapi lebih kepada hubungan yang telah terikat antara Israel, negara induk Yahudi, dengan beberapa negara ASEAN yaitu Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Myanmar. Hubungan yang terjadi ini bukan sekedar hubungan biasa, melainkan hubungan resmi yang sudah sampai pada taraf yang sangat erat. Hubungan itu pun terjalin mulai dari hubungan diplomatik hingga hubungan perdagangan. Negara ASEAN lainnya yaitu Kamboja dan Laos juga memiliki hubungan resmi dengan Israel, meski masih terbilang hubungan biasa atau diplomatik saja. Di sisi lain Indonesia, Malaysia, dan Brunai sangat menolak hubungan dengan Israel meski hanya berupa hubungan diplomatik. Paling tidak itulah yang terlihat di permukaan, meski disinyalir terjadi telah hubungan tidak resmi atau underground. Hubungan antara Israel dengan beberapa negara ASEAN telah berlangsung sejak lama sebagaimana yang diakui oleh Departemen Luar Negeri Israel. Negara Myanmar memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sejak tahun 1949, setahun setelah Israel mengumumkan keberadaannya di tanah Palestina. Kemudian Filipina memulai hubungan diplomatiknya dengan Israel pada tahun 1957. Thailand memulainya pada tahun 1958, dan Singapura memulai pada tahun 1969. Sedangkan pada tahun 1993, tiga negara ASEAN yaitu Vietnam, Laos, dan Kamboja memulai hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan di Thailand terdapat sekitar 300 orang Yahudi yang sebagian besarnya adalah pebisnis perhiasan. Hubungan antara Israel dengan beberapa negara ASEAN menambah lengkap ancaman pebisnis Yahudi bagi Indonesia, disamping tentu saja hubungan itu memberikan peran berarti bagi perkembangan bisnis Yahudi di tanah air. Melalui negara-negara itu, para pebisnis dan perusahaan Yahudi berkemungkinan besar akan memasuki negeri ini. Terlebih lagi telah terjadi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara-negera ASEAN pro-Israel itu yang terjalin dalam AFTA. Melalui negara-negara ini produk dan jasa perusahaan Yahudi terlebih dahulu akan masuk ke Indonesia secara bebas sebelum produk dan jasa perusahaan mereka masuk melalui negara-negara maju pada perdagangan bebas seluruh dunia tahun 2020. Bisnis Yahudi akan menyerang dari berbagai wilayah. Dari Eropa, Amerika, dan Asia, bahkan dari kawasan sendiri yaitu kawasan Asia Tenggara. Jika demikian, maka bukan hal yang mustahil bahkan merupakan keniscayaan jika bisnis Yahudi akan semakin merajalela di negeri yang kita cintai ini. Kita lihat saja nanti.