Peran Obama

Barack Obama, sebuah nama yang tiba-tiba melesat terkenal di seantero dunia. Terkenal karena nama itu masuk ke dalam calon presiden pada pemilu pilpres Amerika Serikat tahun 2008 kemarin. Kemudian lebih terkenal lagi ketika nama itu berhasil menang pemilu dan menjadi presiden AS ke-44. Ia juga merupakan presiden keturunan Afrika-Amerika pertama sepanjang sejarah negeri adidaya itu. Ia menjadi perhatian masyarakat dunia dari benua Amerika sampai ke benua Asutralia. Tentu saja diperhatikan karena dia adalah presiden dari negara yang saat ini menguasai dunia. Perhatian itu terutama mengenai bagaimana perannya sebagai presiden mampu memposisikan Amerika Serikat bersifat netral atau bijaksana terhadap konflik-konflik yang ada di seluruh dunia. Terkhusus konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah. Perhatian dan tanggapan dari masyarakat dunia ini berbeda-beda. Ada yang pesimis terhadapnya, ada yang bangga atau optimis, bahkan ada yang biasa-biasa saja. Banyak yang pesimis bahwa Obama tidak akan mampu merubah keadaan menjadi lebih baik. Ia akan bersifat sama seperti pendahulunya, George W Bush dalam menangani perdamaian dunia bahkan bisa lebih kejam. Ia tidak akan mampu melepaskan ketergantungan negaranya terhadap Israel. Banyak juga yang bangga dan optimis bahwa Obama akan mampu membawa perubahan pada Amerika Serikat khususnya dan dunia pada umumnya. Ia akan memimpin Amerika Serikat dengan sistem yang baru dan lebih baik. Ada juga yang memberikan respon biasa-biasa saja, tidak peduli, dan tidak membangga-banggakan apalagi terlalu berharap kepadanya.

Berbagai respon dan tanggapan juga terjadi di negeri ini, Indonesia. Mungkin respon yang ditampilkan oleh sebagian besar rakyat bangsa ini sangat meriah dan terlalu berharap kepada Obama. Apalagi ada hubungan sentimentil antara Obama dan bangsa ini dimana ia memiliki ayah tiri berkewarganegaraan Indonesia dan pernah menghabiskan masa kecilnya di ibukota negeri ini yaitu Jakarta. Hubungan inilah yang menimbulkan aroma positif dan bangga terhadap Obama dari sebagian besar masyarakat bangsa ini. Bahkan media tidak pernah henti-henti menayangkan hubungan tersebut. Bagi sebagian besar rakyat kita, Obama telah muncul bak seorang pahlawan yang akan memberikan perubahan positif bagi hubungan Amerika Serikat dengan negeri ini. Terlebih lagi ia juga diharapkan memberikan dampak kemajuan bagi bansag ini. Padahal ia bukan presiden dari bangsa ini, melainkan presiden dari negara orang lain, Amerika Serikat. Meski memang tidak dipungkiri pasti Obama sebagai presiden AS akan menjalin hubungan dengan Indonesia, seperti presiden AS sebelum-sebelumnya yang juga menjalin hubungan dengan bangsa kita.

Kemudian bagaimanakah kemungkinan hubungan yang akan dijalin oleh Obama dengan Indonesia?. Apakah semakin erat dan positif atau malah semakin renggang dan berdampak negatif. Dari berita-berita yang tersiar di media masa akhir-akhir ini, maka kemungkinan besar Obama akan membawa Amerika Serikat memiliki hubungan yang lebih erat dengan Indonesia. Ada beberapa dasar dari kemungkinan itu. Pertama kunjungan menteri luar negeri Amerika Serikat, Hilary Clinton ke Indonesia. Pidato kunjungan Hilary bersama Menlu Hasan Wirayuda bahkan disiarkan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia. Setelah pelantikannya sebagai presiden Obama mengutus Hilary untuk melakukan kunjungan ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Suatu hal yang tidak biasa dilakukan oleh AS karena selama ini biasanya Menlu AS selalu melakukan kunjungan ke negara-negara maju terlebih dahulu setelah pelantikan seorang presidennya. Dalam pidato kunjungannya Hilary mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara penting di Asia bagi negaranya. Kedua beberapa hari yang lalu yaitu pada tanggal 13 Maret 2009, presiden Barack Obama menelpon presiden SBY mengenai hubungan antara negaranya dengan Indonesia. Dalam pembicaraan via telpon itu, kurang lebih Obama ingin menjalin hubungan yang lebih komprehensif atau meliputi banyak hal seperti ekonomi dan politik. Dan tentu saja pembicaraan itu mengisyaratkan tentang jalinan perdagangan yang lebih erat lagi.

Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden sangat menguntungkan Amerika Serikat. Pasalnya kharisma dan kesan baik yang dimiliki olehnya dapat menghilangkan atau paling tidak meminimalisir kesan negatif AS dimata dunia. Kini sebagian besar masyarakat dunia lebih melihat Obama secara pribadi ketimbang melihat Amerika-nya. Hal ini pun terjadi pada sebagian masyarakat di negeri kita Indonesia. Kebanyakan masyarakat kita melihat Obama memiliki sebuah kekuatan untuk mengubah Amerika. Sering kali kekuatannya dianggap melebihi kekuatan manusia lain yang ada di negeri itu. Padahal yang menentukan berbagai kebijakan di negara superpower itu bukan Obama saja. Banyak pihak dan individu yang juga dapat mempengaruhi masa depan Amerika Serikat. Tetapi sepertinya banyak mata telah tertutup oleh kharisma yang dimiliki oleh Obama. Jika sudah demikian kenyataannya, apa mau dikata.

Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden dengan segala kebijakan yang dikeluarkannya dan kharismanya memberikan pengaruh bagi masa depan bisnis Yahudi di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perekonomian negara Amerika Serikat saat ini dikendalikan oleh korporasi multinasional terkhusus korporasi milik pebisnis Yahudi. Korporasi itu misalnya Microsoft, Dell, Dunkin Donut, Walt Disney, Dow Jones, Wall Street, dan masih banyak lagi korporasi atau perusahaan Yahudi yang tegak berdiri di negara Paman Sam itu. Ditambah lagi korporasi-korporasi asal Isreal yang memiliki kedekatan dengan pemerintahan Amerika Serikat. Selain itu. sebagian besar perusahaan dan bisnis Yahudi berpusat di negeri ini. Sehingga negara Amerika Serikat telah menjadi pusat bisnis nomor satu bagi para pebisnis Yahudi. Di Amerika Serikat, orang-orang Yahudi sudah dianggap sebagai warga negara yang sah dan agama mereka juga dianggap sebagai  salah satu agama resmi negara itu. Sehingga kegiatan mereka selama tidak melanggar hukum dianggap seperti kegiatan warga lainnya, apatah lagi jika kegiatan mereka sangat mendukung pemerintahan terkhusus perekonomian yang selama ini ditampilkan oleh para pebisnis Yahudi di negeri itu. Para pebisnis Yahudi melalui pajak telah memberikan pemasukan yang sangat berarti bagi devisa AS. Belum lagi pemberian bantuan dana lainnya diluar pajak yang jumlahnya juga cukup besar. Kemudian sudah hal yang lumrah bagi suatu negara jika mendukung kemajuan perusahaan atau bisnis warganya. Salah satu dukungannya adalah ketika suatu negara menjalin hubungan dagang dengan negara lain, maka peran para pebisnisnya akan diikutsertakan. Begitu juga yang terjadi antara perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat dan negara kita, Indonesia. Tentu saja perdagangan kedua belah pihak akan melibatkan peran pebisnisnya masing-masing. Ketika hubungan perdagangan itu semakin erat seperti yang diharapkan Obama melalui pembicaraan dengan SBY, maka peran pebisnis kedua belah pihak akan lebih besar lagi. Hal ini lagi-lagi sangat menguntungkan para pebisnis Yahudi yang notabene mendominasi dunia bisnis di negara superpower itu. Perusahaan-perusahaan mereka akan tidak segan-segan untuk masuk ke Indonesia. Produk-produk mereka yang telah masuk akan semakin membanjiri pasar dalam negeri kita. Perusahaan-perusahaan mereka yang belum berkesempatan menyambangi tanah air kita akan memanfaatkan hubungan dagang yang akan semakin erat ini. Perusahaan yang belum memiliki kesempatan itu tentu saja ingin turut bermain di dunia bisnis tanah air. Dan produk-produk Yahudi-Amerika yang belum masuk ke negeri kita akan segera menambah warna dan pilihan bagi masyarakat Indonesia yang merupakan konsumen paling potensial. Ironinya hal ini bukan merupakan suatu masalah bagi sebagian masyarakat Indonesia. Tetapi bagi sebagian masyarakat terkhusus para pebisnis kecil dan menengah, maraknya kedatangan para pebisnis asing tidak terkecuali pebisnis Yahudi-Amerika merupakan ancaman tersendiri. Para pebisnis ini akan semakin tergusur dan terpinggirkan oleh kedatangan perusahaan asing yang bermodal besar itu. Saat ini saja sudah banyak pedagang kecil dan tradisional yang tergusur, apatah lagi jika kedatangan para pebisnis asing asal Amerika Serikat itu semakin bertambah. Tentu mereka akan terus tergilas dan semakin terdesak hingga nantinya mereka akan berputus asa untuk melanjutkan bisnisnya. Dan ujung-ujungnya mereka akan menggulung tikar bisnisnya dan harus mengiba kepada perusahaan Yahudi asal Amerika nan digdaya itu.

 

Awalnya Perdagangan, Akhirnya Pemerintahan

Perdagangan adalah perilaku manusia sejak dahulu kala. Ia hadir melengkapi kehidupan manusia dan telah menjadi sesuatu yang sangat penting. Penting karena perdagangan salah satu cara manusia mempertahankan hidupnya. Dan hidup manusia ini mengalami perkembangan bersama peradabannya. Meski peradaban manusia semakin tumbuh modern, tapi perdagangan selalu mampu mengimbanginya dan menjadi modern pula. Bermula dengan sistem barter, kemudian perdagangan berhasil menemukan alat tukar sebagai pengganti sistem barter tersebut. Dari perdagangan lokal di setiap daerah, perdagangan pun berkembang menjadi berskala internasional seperti sekarang ini. Seiring perkembangannya, perdagangan tidak hanya sebagai cara tukar menukar atau jual beli barang atau jasa saja. Tetapi ia sering menjadi suatu alat yang digunakan untuk mencapai tujuan di luar tujuan perdagangan itu sendiri. Misalnya sebagai alat untuk meraih kekuasaan, kekayaan, prestise, atau juga sebagai alat penyebaran keyakinan. Apalagi ketika perdagangan telah modern dan berskala internasional seperti saat ini, motif atau tujuan orang melakukan perdagangan pun beragam. Sepertinya perdagangan memiliki kekuatan yang cukup hebat sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan orang yang melakukannya.

Sepanjang sejarah, penggunaan perdagangan sebagai alat untuk mencapai kekayaan ataupun mendapatkan harta lebih itu sudah lumrah dan memang begitu adanya. Namun akan lain ketika perdagangan digunakan untuk sesuatu yang berhubungan dengan politik, pemerintahan atau keyakinan. Di daratan China, sejak ribuan tahun lalu perdagangan sering bersinggungan dengan politik dan kekaisaran. Konflik politik yang terjadi antar kekaisaran atau dalam kekaisaran sendiri tidak jarang yang bermula pada konflik perdagangan. Diantara pejabat kekaisaran dan para pedagang sering saling mendukung untuk menjatuhkan musuh-musuhnya. Terkadang juga saling bermusuhan, tergantung pada sesuai atau tidaknya kepentingan kedua belah pihak. Pada zaman sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, orang-orang Yahudi menguasai perdagangan terlebih dahulu sebelum menguasai politik di kota Madinah. Dengan dikuasainya perdagangan di kota tersebut, maka orang-orang Yahudi dengan leluasa dapat menentukan kondisi politik di kota tersebut. Setelah dikuasainya situasi politik di kota itu, kemudian mereka dapat menentukan situasi keamanan di kota itu. Seringkali orang-orang Yahudi memprovokasi bahkan membiayai para kabilah Arab untuk berperang dan terus berpecah belah. Karena orang-orang Yahudi takut sekiranya semua kabilah Arab di kota Madinah ketika itu mampu bersatu. Maka mereka rela melakukan apa saja untuk mencegah persatuan itu. Di sisi lain, mereka juga mengharapkan ketergantungan dari kabilah-kabilah Arab-Madinah terhadap keberadaan mereka. Oleh karena itu, mereka mengikat ketergantungan itu dengan cara menjerat para kabilah-kabilah Arab dengan hutang besar yang disebabkan sistem riba yang mereka terapkan. Hutang besar itu dibebankan kepada para kabilah Arab-Madinah melalui pinjaman dana untuk berperang. Sebagian lagi dibebankan melalui pinjaman dana untuk usaha. Kemudian lebih dekat lagi kita melihat pada sejarah bangsa ini, Indonesia. Para penjajah bangsa ini seperti Belanda dan Portugis pertama kali masuk ke Indonesia melalui perdagangannya. Yang paling terkenal adalah armada dagang VOC milik Belanda, sebuah negara yang kemudian menjajah Indonesia selama 350 tahun. Mereka datang membawa misi 3G yaitu Gold (emas), Glory (kejayaan), dan Gospel (ajaran keyakinan). Berawal dari misi dagang itu, kemudian mereka bertindak lebih jauh dengan turut campur dalam masalah politik dan pemerintahan kerajaan yang ada di negeri ini. Hingga akhirnya mereka berhasil merebut kekuasaan di negeri ini dan menjajahnya selama ratusan tahun. Bahkan sampai saat ini, sistem pemerintahan mereka masih diterapkan oleh bangsa kita. Selain campur tangan dalam politik dan pemerintahan, mereka juga mengeruk kekayaan alam negeri ini sesuai dengan misi mereka yaitu Gold. Kemudian mereka juga menyebarkan ajaran dan keyakinan mereka yang sesuai dengan misi mereka yang ketiga yaitu Gospel. Dari mereka itulah, ajaran dan keyakinan agama kristen diimpor dari Eropa ke tanah air. Begitu juga yang terjadi dengan agama Islam, ia masuk melalui media perdagangan. Para pedagang dari Arab dan Gujarat menyebarkan agama Islam sambil berdagang di negeri ini. Selain pandai berdagang, mereka juga pandai menyebarkan agama Islam hingga banyak orang Indonesia yang tertarik dengannya. Sehingga dikenalah dengan yang namanya Wali Songo (sembilan wali) yang digambarkan sebagai sembilan mubaligh yang sangat giat menyampaikan ajaran agama Islam kepada masyarakat bangsa ini. Penyebaran agama Islam melalui perdagangan ini terbilang berhasil karena kini agama Islam menjadi mayoritas di tanah air. Bahkan beberapa diantara para penganutnya mampu mempengaruhi pemerintahan dan politik negeri ini.

Seperti halnya bangsa China, Arab dan Eropa, bangsa Yahudi juga tidak segan-segan untuk memanfaatkan perdagangan sebagai cara untuk mencapai kekuasaan atau paling tidak mempengaruhi pemerintahan bangsa lain. Salah satu contohnya adalah yang telah disinggung diatas pada zaman sebelum kedatangan Islam di kota Madinah. Contoh lainnya juga banyak yang menandakan hal serupa. Perdangangan atau ekonomi mereka gunakan untuk mempengaruhi aspek lainnya terutama politik dan pemerintahan. Kita mulai saja misalnya dari bangsa Jerman sebelum Perang Dunia II. Kala itu, bisa dikatakan hegemoni bisnis dan ekonomi orang-orang Yahudi seperti hegemoni China di negeri ini. Bahkan mungkin lebih parah lagi. Karenanya salah satu alasan terjadinya perang antara Hitler dan bangsa Yahudi adalah sentimen ekonomi. Dikabarkan pada masa itu bahwa 80% bisnis dan perekonomian Jerman dikuasai oleh orang-orang Yahudi jumlahnya hanya sekitar 1% dari seluruh penduduk negeri itu. Mereka memiliki perusahaan, pabrik dan banyak produk-produk dari hasil tangan para pebisnis Yahudi. Tak jarang pula orang-orang Yahudi yang memiliki tanah dan lahan. Sebagian lagi dari mereka juga memiliki bisnis yang bergerak di bidang jasa. Pengaruh orang-orang Yahudi ternyata tidak sebatas ekonomi saja, melainkan merambat kepada masalah politik dan pemerintahan. Banyak pula diantara orang Yahudi yang menjadi pejabat tinggi negara Jerman. Hal ini dirasakan oleh Hitlet. Maka ketika Hitler menjadi pemimpin di Jerman, orang-orang Yahudi menjadi sasaran utama atas semua peraturan yang dikeluarkannya. Hitler membatasi hak bisnis dan ekonomi orang-orang Yahudi berbarengan dengan penyingkiran orang-orang Yahudi dari jabatan tinggi negara dan jabatan publik lainnya. Meski mendapat perlawanan dari orang-orang Yahudi, Hitler tetap melakukannya. Di lain pihak, Yahudi merasa kuat di bidang bisnis, finansial dan perekonomian. Karenanya Yahudi tidak segan-segan menyatakan perang melawan Hitler seperti yang diberitakan surat kabar London Daily Express pada tanggal 24 Maret 1933; “Orang-orang Yahudi di seluruh dunia menyatakan perang secara ekonomi dan finansial kepada Jerman” (The Barners Review, Jan./Feb.2001, pp.41-45). Di luar Jerman, ikatan orang-orang Yahudi juga kuat. Terlebih lagi mereka juga memiliki pebisnis-pebisnis kaya raya dan memiliki pengaruh terhadap pemerintahan bangsa lain. Karena itu, ketika orang-orang Yahudi meminta bantuan kepada saudara mereka di negeri lain. Bantuan tersebut segera disambut dan direspon balik dengan pengiriman bantuan. Baik berupa finansial ataupun kemiliteran. Walhasil, Hitler pun kalah dalam Perang Dunia II.

Selain Jerman, kita juga dapat berkaca pada negara Rusia. Negara ini, Rusia, merupakan salah satu negara yang banyak terdapat orang-orang Yahudi. Dan sebagian dari mereka adalah para pebisnis. Diantara pebisnis mereka ada yang menjadi pebisnis terbesar di negara itu. Sebut saja misalnya Mikhail Khodorkovsky, Boris Berezovsky, dan Roman Abramovich. Mikhail pernah menjadi pengusaha terkaya nomor satu di Rusia meski sekarang dijebloskan oleh presiden Putin ke dalam penjara karena dituduh telah kongkalikong dengan pemerintah sebelum masa Putin untuk mencapai kekuasan bisnis. Kemudian Boris juga dikenal sebagai pengusaha kaya raya dan kini melarikan diri ke Israel. Sedangkan Roman tidak ada yang menyangsikan kekayaannya saat ini. Sang pemilik club Chelsea ini menjadi pebisnis kaya sekaligus ‘artis’ yang sering diliput oleh media. Pada umumnya ketiga pebisnis Yahudi itu tersangkut kasus privatisasi BUMN di Rusia. Berbeda dengan Mikhail dan Boris, Roman lebih cerdik dalam memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan bisnisnya sehingga bebas dari kejaran Putin. Ia tidak berhasil dijebloskan ke penjara dan juga tidak melarikan diri ke Israel. Tetapi ia lebih memilih terjun sekalian ke dalam dunia politik Rusia dengan menjadi seorang Gubernur di salah satu wilayah Rusia. Bisa dikatakan ia satu-satunya pebisnis Yahudi-Rusia yang lihai memanfaatkan bisnis untuk kekusaan dan sebaliknya, memanfaatkan kekuasaan untuk bisnis.

Kemudian kaca yang paling jelas dan mengkilap untuk kita bercermin adalah negara Amerika Serikat. Sudah tidak ada yang memungkiri kalau negara ini penuh dengan pengaruh dan lobi Yahudi di semua bidang kehidupannya. Mulai dari budaya, bisnis, hingga pemerintahannya. Banyak sekali para pebisnis Yahudi sukses yang berasal dari negara ini. Misalnya Bill Gates, sang pendiri perusahaan Microsoft. Ada lagi Lary Page dan Sergey Brin, sang pendiri Google. Atau Mark Zuckerberg, sang pendiri Facebook yang sedang terkenal saat ini. Ada lagi George Soros, sang pialang yang pernah mengguncang ekonomi Asia. Dan masih banyak lagi perusahaan dan bisnis yang digenggam oleh orang-orang Yahudi seperti Dunkin Donut, Intel, Walt Disney, Baskin Robins, Sara Lee, Starbucks, CBS, ESPN, Viacom, Paramount Picture, 20th Fox Century, Dow Jones, dan lain sebagainya. Seperti etnis lainnya, Yahudi bukan merupakan etnis asli Amerika. Etnis ini datang ke Amerika seperti alasan etnis lainnya yang datang dari Eropa, Afrika ataupun Asia, yaitu mengundi nasib dan meraup kekayaan. Apalagi pada awalnya, Amerika dikenal sebagai daerah yang kaya akan emas. Sumber alam berupa emas yang terekspose di media massa ini membuat banyak orang di berbagai belahan dunia tertarik dan datang untuk mencarinya. Kemudian yang terjadi adalah saling berebut tambang emas, tanah, atau lahan bisnis dan kekayaan lainnya. Sedangkan orang asli Amerika yaitu suku Indian dipinggirkan. Lalu pada perkembangannya, orang-orang Yahudi keluar sebagai pemenangnya. Mereka mampu berkonspirasi menaklukkan dunia bisnis dan politik Amerika. Sebenarnya dari dahulu, konspirasi ini telah terlihat oleh beberapa tokoh Amerika yang jeli. Namun lagi-lagi, para tokoh Yahudi mampu menutupinya. Bahkan Thomas Jefferson pernah mengatakan “Saya yakin institusi perbankan itu lebih berbahaya bagi kebebasan kita daripada tentara kolonial. Seandainya saja rakyat Amerika Serikat mengizinkan bank-bank swasta milik Yahudi mengendalikan perputaran mata-uang, melalui politik inflasi dan deflasi, maka yang terjadi adalah bank-bank dan korporasi yang tumbuh di sekitar bank-bank tersebut, akan mampu merebut kekayaan rakyat sedemikian rupa, sehingga ketika anak-anak negeri ini bangun di suatu pagi hari, mereka tidak lagi memiliki harta kekayaan dan rumah-tinggal di negeri yang dibangun oleh para Bapak-bapak pendiri negeri ini. Kekuasaan bank-bank Yahudi yang mulai tumbuh harus direbut dan dikembalikan kepada rakyat, yaitu pemilik sah dari kekayaan negeri ini”. Sambil menggenggam dunia bisnis Amerika, para tokoh Yahudi mencoba merebut ranah politik negara itu. Dan mereka pun berhasil melakukannya. Sampai saat ini, mata dunia telah menyaksikan bagaimana pemerintahan Amerika Serikat begitu membela kepentingan Yahudi di Amerika, maupun negara induknya yaitu Israel. Pemerintah Amerika tidak pernah bisa mengambil tindakan tegas terhadap Israel dan orang-orang Yahudi bila mereka melakukan kesalahan. Hal itu bisa dikatakan wajar karena memang orang-orang Yahudi di Amerika telah memegang kendali. Orang-orang Yahudi telah memegang kendali berbagai lembaga pemerintahan termasuk partai politik di Amerika yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat. Sehingga siapapa pun presiden yang dihasilkan dari kedua partai itu hasilnya adalah presiden yang pro-Israel. Apapun yang dikeluarkan oleh kedua partai itu hasilnya adalah kebijakan pro-Israel. Bahkan presiden paling dikagumi dunia pun tak bisa berbuat apa-apa ketika berkaitan dengan kepentingan Yahudi (Israel) selain mendukungnya. Sepertinya sudah tidak perlu digambarkan lebih jelas lagi bagaimana hegemoni bisnis, politik dan lobi Yahudi memenuhi ruang-ruang kehidupan bernegara Amerika Serikat karena kita semua telah melihatnya bersama.

Setelah bercermin kepada negara lain, sekarang kita melihat kepada negara kita. Apakah kita akan bernasib sama dengan mereka di masa depan?. Melawan kekuatan Yahudi seperti Jerman dan Rusia atau seperti Amerika yang sudah mati kutu menghadapinya. Tapi yang jelas, paling tidak berpeluang besar kalau geliat bisnis Yahudi di masa depan akan semakin terasa melalui perusahaan-perusahaannya. Cabang-cabang perusahaan mereka akan semakin banyak bertengger di negeri ini. Produk-produk mereka akan memenuhi pasar dan kebutuhan kita dari ujung kaki hingga ujung rambut, dari kebutuhan sehari-hari hingga kebutuhan berteknologi tinggi. Bumi tempat kita berpijak akan kosong dari sumber daya alam karena eksploitasi sumber daya alam yang semakin gencar. Yang ada hanyalah tanah tanpa mineral, permata, logam, atau barang tambang lainnya. Laut kita akan tampak seperti laut mati. Kebijakan dan peraturan pemerintah kita akan semakin banyak yang bernuansa pro-asing, tak terkecuali kepentingan Yahudi. Bisa jadi suatu saat negara kita akan bergandengan erat dengan Israel. Dan semua itu berawal dari perdagangan. Seperti berawalnya penjajahan negeri ini oleh Belanda melalui perdagangan. Kita lihat saja nanti, dan semoga itu semua tidak terjadi


Referensi:

1] Dr Stephen Sherlock. Crisis in Indonesia: Economy, Society and Politics. Parliament of Australia. http://www.aph.gov.au

2] Ramdan, A. Anton. Rahasia Bisnis Yahudi. Zahra Publishing. Jakarta. 2009. Cet.1

3] http://www.nndb.com/people/with jewish ancestry

4] http://www.swaramuslim.com/ Skenario “Indonesia – Yahudi” Raya

5] http://www.mediaindonesia.com/ Investasi Asing: Mitra Sejalan atau Musuh Sepanjang Jalan?

6] http://www.ajn.com.au/ Israel, Indonesia forge economic ties

7] http://www.republikaonline.com/ Kerikil Israel dalam Piagam ASEAN